Anak SMA Jakarta Terisak Dengar Kisah Jugun Ianfu

Anak SMA Jakarta Terisak Dengar Kisah Jugun Ianfu

- detikNews
Jumat, 10 Nov 2006 13:32 WIB
Jakarta - Jugun ianfu jelas istilah asing bagi anak SMA. Tapi begitu mereka mendengar kisah tentang jugun ianfu -- budak seks zaman penjajahan Jepang-- mereka langsung terisak.Nyaris semua mata 50-an siswa SMA di Jakarta itu berkaca-kaca saat menyaksikan film dokumenter tentang jugun ianfu di kantor PNBK, Jalan Penjernihan I No 50, Jakarta Pusat, Jumat (10/11/2006).Beberapa di antaranya mengusap air matanya dengan sapu tangan. Mereka tidak mengira sejumlah wanita Indonesia pada 1942-1945 mengalami penderitaan dahsyat semacam itu.Film dokumenter itu bercerita tentang perempuan yang pada era penjajahan Jepang masih kinyis-kinyis, yang gemetaran ketika dipaksa menjadi mesin seks serdadu saudara tua itu. Ada di antara mereka yang kini organ reproduksinya telah rusak, diangkat, dan tidak pernah memikirkan tentang pernikahan dan punya anak. Sungguh kisah yang tragis."Saya tidak tahu apa itu jugun ianfu, baru tahu sekarang ini. Guru tidak pernah cerita, di buku pelajaran juga tidak ada," kata Rizki, siswa SMA 4, Jakarta saat berbincang dengan detikcom.Rizki tidak tahu jugun ianfu karena kurikulum pendidikan tidak memasukkannya sebagai materi pelajaran. Kepentingan ekonomi dan politik pemerintah Indonesia menjadi halangan untuk memasukkan materi jugun ianfu ke dalam sejarah kurikulum Indonesia."Perekonomian Indonesia yang carut-marut banyak mendapatkan bantuan ekonomi dari Jepang. Sementara kepentingan politik dilakukan dalam rangka menjaga kepentingan ekonomi," kata dosen Sejarah Universitas Indonesia, Dwi Mulyatari, dalam diskusi tentang perjuangkan hak-hak asasi jufun ianfu yang dihadiri perwakilan siswa SMA 4, SMA 24, SMA 26, SMA 13 dan SMKN 8, itu.Dalam diskusi itu, para siswa duduk lesehan di atas karpet. Begitu acara dimulai, film dokumenter langsung diputar. Lalu sesi diskusi digelar. Tak lupa dihadirkan juga Emma, mantan jugun ianfu dari Sukabumi dan Wardiyem dari Yogyakarta. Keduanya mengenakan pakaian kebaya dan disanggul. Wardiyem sekarang berusia 77 tahun.Keduanya hanya bercerita pendek tentang penderitaan mereka karena keburu menangis sedih, teringat trauma masa silam yang kelabu. "Kisah jugun ianfu perlu dimasukkan ke kurikulum, kasihan mereka," kata Rizki. (nrl/sss)


Berita Terkait