KPK Tak Tempel Poster Korupsi ke Sopir Bus yang Menolak
Jumat, 10 Nov 2006 10:51 WIB
Jakarta -
Penempelan poster antikorupsi juga dilakukan secara massal oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Terminal Blok M, Jakarta Selatan, Jumat (10/11/2006). Seperti di Terminal Kampung Rambutan, penempelan ini mendapat 'resistensi' para sopir. Aksi penempelan poster bertuliskan "Koruptor Jangan Biarkan Basah Kelamaan, Gantung Aja Bia Cepat Kering" di Terminal Blok M, mulai pukul 08.30 WIB. Aksi ini guna membangkitkan perlawanan masyarakat terhadap korupsi pada Hari Pahlawan yang jatuh pada hari ini. Aksi ini juga dilakukan di Terminal Pulogadung, selain Terminal Kampung Rambutan dan Blok M. Pemilihan tiga tempat ini terminal tersebut karena merupakan pertemuan bus-bus dari sejumlah kota dan menjadi pusat perbelanjaan. Di Blok M, para petugas KPK sebagian besar mengenakan seragam kaos warna merah-putih dengan topi putih. Mereka berjumlah kurang lebih 45 orang yang terbagi dalam 15 regu yang masing-masingnya beranggotakan 3 orang.Mereka menempelkan poster dan membagikan stiker serta komik seri antikorupsi berjudul "Pemburu Koruptor" kepada masyarakat yang berada di terminal. Sebelum menempelkan poster, mereka meminta izin kepada sopir. Namun tidak sedikit sopir bus, Metro Mini dan Kopaja menolak kendaraannya ditempeli poster itu. Ketika ditanya kenapa menolak, mereka mengaku harus minta izin dahulu ke pemiliknya."Ini bukan mobil saya. Saya cuma sopir batangan (pengganti-red)," ujar salah seorang sopir Metro Mini 69 jurusan Ciledug-Blok M kepada petugas KPK. Petugas KPK pun tidak menempelkan poster yang dibawanya kepada sopir yang menolak. Tapi banyak juga sopir yang tidak keberatan meski tidak ada penjelasan bertele-tele.Warga yang ditemui detikcom di Terminal Blok M mendukung apa yang dilakukan KPK. Hanya saja, mereka merasa pemberantasan korupsi saat ini masih pilih-pilih. Hadi (40) yang tengah menunggu bus, mengaku merasa kesal melihat tayangan di televisi yang memberitakan para koruptor kelas kakap banyak yang lepas. "Kita sebagai rakyat jelata hanya bisa kesal doang. Lihat tayangan di televisi begitu-begitu aja, kalau yang gede dilepas, tapi yang kecil dimasukin," ujarnya.Sedangkan Robi (28) menilai, upaya yang dilakukan KPK cukup bagus untuk mensosialisasikan kepada kalangan bawah tentang arti korupsi. Saat ini, menurutnya, korupsi sudah menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri."Saya mengharapkan KPK bisa lebih mantap, kalau bisa para koruptor dihukum mati," tandasnya.
(zal/nrl)










































