Militer Sri Lanka Gempur Sekolah, 45 Warga Sipil Tewas

Militer Sri Lanka Gempur Sekolah, 45 Warga Sipil Tewas

- detikNews
Kamis, 09 Nov 2006 15:16 WIB
Kolombo - Korban jiwa terus berjatuhan di Sri Lanka. Pasukan militer Sri Lanka menggempur sebuah sekolah yang dijadikan tempat pengungsian warga. Akibatnya, puluhan warga sipil tewas dan ratusan luka-luka.Mereka yang tewas adalah warga yang mengungsi ke sekolah itu untuk menghindari bentrokan pasukan Sri Lanka dan gerilyawan pemberontak. Duh!Menurut kubu pemberontak, korban tewas setidaknya 45 orang dan 125 lainnya terluka. "Itu serangan besar dan kami sudah menemukan 45 mayat," kata Seevaratnam Puleedevan, seorang figur senior kelompok pemberontak Macan Tamil.Menurutnya, korban jiwa termasuk 6 bayi. Demikian seperti diberitakan harian Inggris, The Herald, Kamis (9/11/2006).Namun pihak pemerintah Sri Lanka menuding pemberontak Tamil telah menggunakan warga sipil sebagai perisai. Militer berdalih bahwa mereka hanya membalas serangan pemberontak.Organisasi HAM Amnesty International mengutuk insiden berdarah itu."Ini mengejutkan. Militer menyerang kamp untuk orang-orang yang kehilangan tempat tinggal. Mereka itu warga sipil yang terpaksa pergi dari rumah mereka dikarenakan konflik ini," ujar Purna Sen, Direktur Asia Pasifik Amnesty International.Serangan ini merupakan peristiwa terburuk kedua bagi warga sipil Tamil. Sebelumnya pada 14 Agustus lalu, serangan udara militer Sri Lanka menewaskan 61 perempuan Tamil di Mullaitivu, basis pertahanan pemberontak.Adapun bagi militer Sri Lanka, serangan tunggal terburuk yang dialami terjadi pada 16 Oktober lalu. Saat itu, seorang pengebom bunuh diri meledakkan dirinya ke konvoi militer dan menewaskan setidaknya 95 orang.Sejauh ini sudah lebih dari 1.000 warga sipil Sri Lanka yang terbunuh tahun ini akibat konflik. Lebih dari 65 ribu orang meninggal selama dua dekade perang saudara di Sri Lanka sebelum kemudian terjadi gencatan senjata pada 2002. Namun gencatan senjata itu belakangan ini dinodai dengan pertempuran militer Sri Lanka dan pemberontak yang terjadi hampir setiap hari. (ita/sss)


Berita Terkait