Ditagih PPI Belanda
Rombongan Studi Banding DPR Beri Jawaban Klise
Kamis, 09 Nov 2006 01:17 WIB
Den Haag - Rombongan studi banding DPR ke Belanda ditagih PPI soal parameter keberhasilan, namun mereka tidak siap. Klise, jawaban yang diberikan.Nama-nama dalam rombongan studi banding DPR yang ke Belanda kali ini terdiri dari Marwan Jafar, Soeharsojo Wirjoatmodjo, Azhar Romli, Mangara Siahaan, Nusyirwan Soejono, Syahrial Agamas, Hasyim Karim, Adjie Massaid, Husein Abdul Aziz, Aboebakar Al Habsi, Bulyan Royan dan M Darus Agap.Bertindak sebagai pentolan rombongan ini adalah Putra Jaya Husein dari fraksi Partai Amanah Nasional (PAN). Meskipun dikritik pedas oleh masyarakat, rombongan dari Komisi V DPR ini tetap berangkat, mengekor jejak rombongan-rombongan studi banding sebelumnya ke Negeri Tulip. Bagaimana hasil studi banding rombongan anggota DPR selama ini dan apa ukuran keberhasilannya?Soal ukuran keberhasilan itu kali ini kembali ditagih PPI Belanda, yang menemui rombongan studi banding di tempat penginapan mereka di Golden Tulip Bel Air Hotel, Den Haag, Selasa (7/11/2006) pagi jam 07.30 waktu setempat. Mendapat pertanyaan seperti itu, ketua rombongan Putra Jaya Husein hanya menjanjikan bahwa pihaknya akan menginformasikan Daftar Isian Masalah sebelum dan sesudah perjalanan ke Belanda. "Untuk dinilai apakah studi banding membawa perubahan yang berarti," kilah Putera. Ucapan ini dicatat PPI Belanda dan ditunggu pembuktiannya.Selain menagih parameter, di hotel yang terletak di jalan Johan de Wittlaan 30, Den Haag, itu PPI Belanda juga secara blak-blakan menumpahkan keprihatinannya tentang kegiatan studi banding yang dinilai sering kurang jelas manfaat dan kegunaannya. Putra berkelit bahwa studi banding ke Belanda ini sebenarnya sudah sempat tertunda sampai dua kali karena beberapa alasan. "Antara lain karena pihak Belanda belum siap. Materi studi banding kali ini dan hal-hal yang ingin dipelajari di Belanda sudah direncanakan sejak lama," ujar Putra.Cuci TelingaMemperhatikan argumen rombongan studi banding, PPI Belanda menyampaikan bahwa belajar dari negara-negara lain memang penting, tapi tidak harus dengan studi banding yang menelan biaya besar.PPI Belanda mengusulkan untuk memanfaatkan potensi komunitas Indonesia di luarnegeri, baik pelajar maupun profesional. Hal ini akan lebih efektif karena komunitas Indonesia di luarnegeri sudah mengenal dengan baik sistem yang ada di negara domisilinya. Banyak pula penelitian para pelajar maupun kandidat doktoral yang sangat relevan untuk pembangunan Indonesia dengan mengambil contoh sistem negara lain yang sudah maju. Bila ini disalurkan dan terjadi link and match dengan baik, maka substansinya pun akan jauh lebih kaya daripada hanya kunjungan beberapa saat. Di samping itu kerjasama dengan atase-atase teknis yang ditugaskan di perwakilan atau kedutaan besar juga merupakan salah satu bentuk pemberdayaan komunitas Indonesia yang sudah di luarnegeri tanpa perlu berbondong-bondong studi banding.Dijelaskan bahwa komunitas WNI di Belanda menyimpan potensi besar untuk Indonesia. Ribuan pelajar Indonesia menempuh studi di berbagai bidang seperti ekonomi, hukum, perencanaan wilayah, sejarah, sosiologi, teknik, dan mayoritas menuntut ilmu di institusi pendidikan yang cukup berkualitas. Belum lagi para profesional Indonesia yang bekerja di Belanda dan memiliki pengalaman praktis tingkat dunia.Mendapat cucian telinga dari PPI Belanda, Adjie Massaid dari fraksi Partai Demokrat angkat bicara dengan menyatakan siap menampung dan menindaklanjuti masukan-masukan konkret dari komunitas Indonesia di luarnegeri yang masih peduli dengan pembangunan di Indonesia.Klise? Yang jelas, jawaban siap menampung dan menindaklanjuti masukan itu tidak melenceng dari jawaban rombongan-rombongan studi banding DPR ke Belanda sebelumnya, sejak 2000. Keterangan Foto: Golden Tulip Bel Air Hotel, Den Haag
(es/es)











































