Menkeu Bosan Ditanyai Dana Kedatangan Bush

Menkeu Bosan Ditanyai Dana Kedatangan Bush

- detikNews
Rabu, 08 Nov 2006 22:39 WIB
Jakarta - Segala pernik seputar rencana kedatangan Presiden AS George W Bush, ke Indonesia selalu jadi perhatian. Salah satunya jumlah dana yang dianggarkan pemerintah untuk persiapan penyambutan dan pengamanannya. Para pejabat negara terkait masalah tersebut, tak ayal menjadi buruan wartawan untuk dimintai konfirmasinya. Dua diantaranya adalah Menkeu Sri Mulyani dan Mensesneg Yusril Ihza Mahendra."Aduh itu lagi tanyanya. Tidak tahu," keluh Menkeu saat dicegat wartawan sebelum mengikuti rapat terbatas di kantor presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta (8/11/2006). Rupanya beberapa hari terakhir, pada setiap kesempatan dirinya selalu dicecar pertanyaan yang sama. Mulai dari biaya pembangunan helipad di Kebun Raya Bogor, penggelaran pasukan keamanan dan pengadaan sarana penunjang lainnya. Padahal anggaran untuk pembiayaan penyambutan tamu negara dan kegiatan yang libatkan Kepala Negara lain, bukan wilayah Depkeu tetapi pihak Sekretariat Negara. Sri Mulyani pun langsung mengarahkan wartawan untuk menanyakannya ke Mensesneg. "Kalau seperti itu (penyambutan Bush) biasanya sama dengan (penyelenggaraan) Konferensi Asia Afrika, dananya dalam Sekneg," imbuh Sri Mulyani sambil menerobos kepungan wartawan. Kebetulan, Mensesneg Yusril Ihza Mahendra muncul beberapa menit kemudian. Para wartawan pun bergegas menyongsongnya. Tapi lagi-lagi, tidak ada jawaban jelas yang disampaikannya. "Belum dihitung. Nanti saja lah soal biaya. Kalau sudah selesai barangkali baru dapat dihitung," jawabnya sambil menyungging senyum. Sambil meneruskan langkah, Yusril menjelaskan bahwa prosedur pembiayaan persiapan penyambutan Bush berada ditangan masing-masing unit terkait. Dia juga mencontohkan pembiayaan pengamanan tamu negara asing diatur langsung oleh Mabes TNI. Tapi berapa pun total dana yang dikeluarkan, meski jumlahnya lebih banyak dibanding penyambutan kepala negara sahabat lainnya, menurut Yusril relatif normal dan perlakuan sama terjadi juga di masa-masa lampu. Sebab, konteksnya adalah Indonesia sebagai tuan rumah yang baik terhadap para tamunya. "Prinsipnya kita tidak mengundang Presiden Bush. Kedatangan itu inisiatif dari AS sendiri. Jadi kita sebagai sohibul bait yang menerima kedatangan tamu, jadi jangan salah paham konteknya," tandas Yusril. (ndr/ndr)


Berita Terkait