Ditinggal ke Libanon, Rela Tak Rela Harus Iklas
Rabu, 08 Nov 2006 21:24 WIB
Jakarta - Suasana haru keluarga melepas keberangkatan Tim Aju Kontingen Garuda XXIII-A ke Libanon. Rela atau tidak, mereka harus iklas ditinggal salah satu anggota keluarganya yang bertugas di wilayah konflik."Ini tugas negara dan prajurit, kita harus berani meninggalkan keluarga walau berat," kata Serka Puji Winarno kepada wartawan sebelum berangkat ke Libanon di Terminal III, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Rabu (8/11/2006).Puji yang merupakan anggota kesatuan kesehatan TNI AD ini harus rela meninggalkan istri dan anaknya semata wayang. "Ini untuk pertama kalinya tugas di luar negeri, kalau tugas operasi di Aceh sudah pernah," ujar bapak dari Andika (1,5).Hal yang sama juga disampaikan oleh Kapten Mar Amirul Ardiyansah, anggota Brigif II Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan. Ia mengaku bangga bisa mewakili Indonesia bertugas sebagai pasukan perdamaian PBB."Saya pengalaman tugas ke Aceh dan Ambon, tapi itu mewakili kesatuan. Kalau di bawah PBB itu mewakili bangsa," ucap Amirul bangga.Amirul mengaku sudah biasa meninggalkan keluarganya, bahkan saat dirinya baru menikah langsung meninggalkan istrinya ke Ambon. Hal itu juga diamini istrinya bernama Ita Soraya yang mengaku siao ditinggal tugas sang suami.Ita mengaku walau ditinggal cukup lama dan jauh nun di negeri Timur Tengah, toh komunikasi bisa tetap jalan dengan Amirul. "Kami sepakat tetap berkomunikasi via telepon dan email," katanya.Anaknya sendiri sudah biasa ditinggal sang ayah berpergian. Ketika ditanya rela tidak ditinggal? Dengan diplomatis Ita mengatakan bahwa hal itu demi negara."Rela tidak rela, rela karena itu tugas negara, nggak rela karena mau ditinggal, tapi saya siap kok," tandas Ita.Lain lagi Ciptani istri Puji yang mengaku baru pertama kali ini ditinggal lama. "Walau berat, tapi gimana? Kan ini tugas negara, Insya Allah iklas," ujar perempuan berkerudung tersebut.Bagaimana yang masih bujangan? Prajurit Satu (Pratu) JP Sinaga anggota satuan TNI AD di Karawang, Jawa Barat, ini mengaku keluarganya bangga dirinya terpilih ikut pertugas ke Libanon. "Ini baru pertama kali saya ditugaskan ke luar negari, orang tua bangga. Untuk sementara penugasan selama 8 bulan, tapi bisa lebih, tidak kurang," jelasnya.Pratu Mar Harry Wibowo juga mengungkapkan yang sama. Walau keluarganya tidak ada yang datang di hari keberangkatannya di bandara. Namun menurut Harry, dirinya telah menelepon orangtuanya di Yogyakarta melalui telepon."Ini tugas negara saya siap 100 persen," akunya.Ketika ditanya bagaimana bila nanti dalam tugas menjadi korban. "Yang namanya kita punya agama, kita percaya Tuhan, apapun yang terjadi diserahkan kepadaNya," ucap Harry penuh keyakinan.Begitulah pendapat mereka, toh akhirnya banyak juga yang menitikan air mata saat anak, ayah atau suami mereka bertugas di wilayah konflik. Begitu juga hal tersebut dirasakan oleh Presiden SBY dan Ani Yudhoyono yang ditiggal pergi putra sulunya Lettu Inf Agus Harimurti Yudhoyono.Mereka semua merupakan bagian dari 125 anggota Tim Aju yang berangkat ke Libanon. Mereka inilah yang akan mempersiapkan kedatangan 725 prajurit TNI yang akan menyusul pada 24 November mendatang.
(zal/zal)











































