Kalla dan Cinta Segitiga
Selasa, 07 Nov 2006 15:21 WIB
Jakarta - Cinta segitiga tidak melulu jelek. Begitu 'teori' yang disampaikan Wapres Jusuf Kalla. "Cinta segitiga itu tidak berarti jelek keseluruhan, itu penting," tandas Kalla.Wapres menyatakan hal itu saat berpidato pada peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (7/11/2006). "Keseimbangan hanya akan terjadi bila kita cinta segitiga," imbuh Kalla. Cinta segitiga apa yang dimaksud Kalla? Ternyata cinta antara manusia, puspa dan satwa. Wapres berpesan agar manusia, puspa dan satwa harus saling hidup bersamaan, bergantung dan mencintai. Bila tidak maka akan kesepian. Ditambahkan Wapres, bupati, gubernur, calon gubernur dan pejabat harus mempunyai kewajiban untuk mengurus lingkungan daerahnya masing-masing. "Bila Gubernur dan Bupati tegas, daerah akan hijau. Tapi kalau Bupati senang pada illegal logging, pasti habis daerahnya,"tandas pria berkumis tipis ini. Wapres juga sempat menggoda Fauzi Bowo, wagub DKI Jakarta yang hendak berlaga dalam Pilkada mendatang."Apabila telah berhasil memelihara lingkungan ini, artinya Gubernur DKI yang sekarang masih wagub... mudah-mudahan nanti. Hatinya berdebar-debar. Jadi nanti Pak Fauzi agar mencintai, bukan hanya anti narkoba. Jangan anti melulu, cintai juga puspa dan satwa," ujar Kalla yang diikuti tepuk tangan pesera acara lingkungan tersebut. Di tempat yang sama, Menteri Negara Lingkungan Hidup Rahmat Witoelar menyebut sudah lebih dari 30 persen satwa dan puspa punah. "Walapun masih ribuan tapi sudah banyak yang hilang, itu bukan urusan kita saja tapi urusan dunia," ujar Rahmat. Menurut pria yang 'menikahkan' SBY-JK ini, satwa dan puspa baik organisme besar dan kecil yang terancam harus dijaga. Karena mereka bagian dari mata rantai kehidupan. Cara menjaganya, yakni hutan harus lestari. "Hutan kita telah rusak 18 persen, isi hutannya banyak yang rusak juga," tandasnya.
(nik/nrl)











































