Bayi Dijual, Dijadikan Teroris
Selasa, 07 Nov 2006 13:17 WIB
Denpasar - Perdagangan manusia di belahan dunia kian mengerikan. Bayi-bayi yang menjadi korban perdagangan anak bukan saja untuk diadopsi, tetapi organ tubuhnya dijual kembali. Bahkan, ada juga bayi yang dibesarkan untuk menjadi teroris. Demikian disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan Dr Meutia Farida Hatta Swasono di sela-sela acara Bali Process Workshop on Human Trafficking Victim Support di hotel Intercontinental, Jimbaran, Bali, Selasa (7/11/2006). Acara ini diikuti 36 negara, antara lain Australia, Jepang, Norwegia, dan negara Asia Pasifik. "Bayi itu bukan diadopsi langsung oleh yang membeli, tetapi dijual. Ya kalau dijual. Bagaimana kalau seperti yang terjadi di negara lain, organ bayi itu diambil kemudian dijual atau mereka dibesarkan untuk menjadi teroris,"kata Meutia Hatta. Meutia Hatta mengatakan bahwa bayi-bayi korban perdagangan manusia sejak awal didesain untuk tidak mendapat kasih sayang. "Mereka didesain untuk mendapatkan kekejaman," ujar dia. "Kita (Indonesia) belum merasakan itu. Untuk anak-anak Indonesia kita tidak punya data, tetapi kita sudah mendapat informasi bahwa terjadi hal seperti itu di negara lain," kata putri Bung Hatta ini. Dalam beberapa kurun waktu, sekitar 880 bayi Indonesia dijual oleh sebuah organisasi ke beberapa negara tetangga, seperti Singapura. Tragisnya, bayi tersebut dibuang ke laut, jika penyelundupan tersebut berhasil digagalkan aparat keamanan setempat. "Pertemuan ini adalah komitmen bersama dari 36 negara anggota untuk bersama mengatasi perdagangan orang karena merupakan kejahatan yang sangat merendahkan martabat manusia," demikian Meutia Hatta.
(gds/asy)











































