Dada Timin Berpeluru, RSCM Bantah Telantarkan Pasien Miskin

Dada Timin Berpeluru, RSCM Bantah Telantarkan Pasien Miskin

- detikNews
Kamis, 02 Nov 2006 18:15 WIB
Jakarta - Sudah seharian timah panas masih bersarang di dada korban penembakan, Timin (32). Namun RSCM mengaku telah berbuat maksimal dan tidak menelantarkan pasien miskin."Kami telah melakukan sesuai prosedur medis. Pelayanan yang kami berikan maksimal. Hampir semua pasien di sini dari keluarga kurang mampu, tapi tetap kami layani," ujar Kepala Humas RSCM Poniwati saat dikonfirmasi wartawan di ruang kerjanya, kompleks RSCM, Jl Salemba Raya, Jakarta, Kamis (2/11/2006).Dijelaskan dia, sebelum pasien masuk perawatan, akan dikategorikan dahulu apakah termasuk pasien dari keluarga miskin atau mampu. Jika keluarga mampu akan dibebani biaya normal, tetapi kalau dari keluarga kurang mampu akan dibebaskan biayanya."Ketika masuk akan ditanyakan apakah dari warga mampu atau miskin. Hanya saja untuk warga miskin harus dapat menunjukan kartu keluarga miskin (gakin) atau kartu bantuan langsung tunai (BLT)," tuturnya.Persoalan administratif itulah yang menjadi kendala bagi Timin. Karena tidak dapat menunjukkan bukti dari keluarga miskin, hansip di Cipayung, Jakarta Timur ini terpaksa terus kesakitan menunggu peluru di dadanya bisa dikeluarkan dokter.Sejak masuk RSCM Rabu 1 November kemarin pukul 21.00 WIB, barulah pada Kamis ini pukul 16.30 WIB Timin digeser ke ruang rontgen untuk persiapan operasi pengangkatan peluru. Itu pun setelah pihak keluarga pontang-panting mengurus kartu gakin dan kartu BLT yang keselip di rumah.Padahal, menurut Poniwati, dalam keadaan superdarurat seperti yang dialami Timin, pihak medis baik dokter atau pihak laboratorium harus mendahulukan keselamatan pasien daripada persoalan uang."Saya rasa dia tidak ditelantarkan. Kalau sifatnya emergency, persoalan administrasi belakangan. Prosedurnya begitu," pungkasnya.Penembakan terhadap Timin terjadi pada 1 November 2006 sekitar pukul 19.00 WIB. Saat itu Timin sedang duduk-duduk di depan rumah setelah salat isya dan mengobrol dengan teman-temannya. Ketika itulah dia curiga dengan orang yang mondar-mandir dan menunggu di ujung jalan rumahnya."Kemudian mereka menghampiri saya. Saya tanya, nyari siapa, Mas? Dijawab, nyari adik. Adik siapa, tanya saya. Eh belum dijawab, saya langsung didor. Jaraknya hanya 1 meter," tutur Timin.Dia mengaku saat itu masih kuat dan sempat berteriak maling. Namun saat melihat darah, dia tidak kuat dan langsung pingsan. Timin kemudian dibawa ke RS Jatirahayu. Namun setelah lukanya dibersihkan, Timin dirujuk ke RS Polri. Dari RS Polri, dia dikirim ke RSCM dengan alasan tidak jelas.Saat tiba di RSCM pada pukul 21.00 WIB, pihak rumah sakit menanyakan dana dan sebagainya. Pihak rumah sakit kemudian menginfusnya dan memberikan suntikan anti tetanus. Selain dada kiri, peluru juga menembus telapak tangan kiri Timin. Sebab saat ditembak, Timin tengah memegangi dadanya. (Ari/sss)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads