Alamak! 30 Gajah Liar Kembali Mengamuk di Riau
Kamis, 02 Nov 2006 14:58 WIB
Pekanbaru - Dalam sepekan ini, gerombolan gajah liar terus mengamuk di Riau. Setelah Kabupaten Bengkalis dan Siak beberapa hari lalu, kini giliran Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) jadi korban amukan 30 gajah liar. Ratusan hektar perkebunan masyarakat pun hancur.Tak ada hentinya gajah terus merengesek ke perkampungan penduduk. Persoalannya tidak terlepas habitat satwa yang dilindungi ini kian menyempit akibat alih fungsi kawasan hutan.Setelah beberapa hari sebelumnya kawasan gajah liar mengamuk di Kabupaten Bengkalis dan Siak menewaskan 1 orang, kini kelompok gajah dari kawasan penyanggah Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) melakukan hal yang sama.Kali ini sekitar 30 gajah liar memorak-porandakan perkebunan milik warga tiga desa. yakni Desa Anak Talang, Desa Talang Bersemi, dan Desa Talang Mulai di Kecamatan Batang Cinako, Kabupaten Inhu, terpusat sekitar 200 km arah timur dari Pekanbaru, Riau."Saat ini tim dari Polres Inhu, WWF Riau bersama tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau terjun ke lokasi untuk melihat keadaan tiga desa tersebut. Laporan yang kami terima sementara belum ada korban jiwa dalam amuk gajah liar ini," kata juru bicara WWF Riau, Syamsidar saat berbincang dengan detikcom, Kamis (2/11/2006) di Pekanbaru.Menurut Syamsidar, kelompok gajah liar ini memasuki perkebunan warga sejak Rabu 1 November 2006 sekitar pukul 14.00 WIB. Hingga kini, kawanan gajah masih mengitari perkampungan penduduk."Selain merusak sekitar 100 hektar perkebunan karet, sawit, perladangan padi dan tanaman palawija, gajah juga merusak tiga pondok milik warga. Pondok di areal perkebunan kelapa sawit itu semuanya dihancur diinjak-injak gajah," tutur Syamsidar.Dia juga menjelaskan, dari 30 ekor gajah yang kini berpencar mengelilingi tiga desa tersebut, dua ekor di antaranya diduga milik BKSDA Riau. Hal itu bisa diketahui dari punggung gajah terlihat cap BKSDA bertanda gajah ini pernah ditangkap.Kuat dugaan, gajah liar ini mengamuk karena memang kawasan penyanggah TNBT kini sebagian besar telah berubah fungsi. Dari kawasan sebagai penyanggah taman nasional, pemerintah memberikan izin untuk perluasan perkebunan sawit milik perusahaan."Selain memang sudah ada perkebunan sawit, di lokasi yang sama juga terjadi perluasan perkebunan sawit," kata Syamsidar.Areal penyanggah taman nasional ini juga diberikan izin pemerintah dikavling menjadi perluasan Hutan Tanaman Industri (HTI) untuk penanaman pohon akasia. Perluasan HTI ini tentulah tidak terlepas untuk kepentingan bahan baku industri dua pabrik kertas di Riau, yakni PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP) dan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP)."Sebagaimana kita ketahui, kawasan penyanggah TNBT merupakan salah satu kantong gajah liar di Riau. Kini dengan habitat mereka terus beralih fungsi, secara otomatis gajah semakin terdesak dari habitatnya. Kondisi ini membuat gajah keluar dari kantongnya dan memasuki areal pemukiman penduduk," jelas Syamsidar.
(cha/sss)











































