Tak Punya Uang, Peluru Masih Tertanam di Dada Hansip Cipayung

Tak Punya Uang, Peluru Masih Tertanam di Dada Hansip Cipayung

- detikNews
Kamis, 02 Nov 2006 14:16 WIB
Jakarta - Nasib Timin (32) benar-benar apes. Setelah dadanya ditembus pelor dua pengendara motor misterius, pihak rumah sakit sepertinya enggan menanganinya. Hingga pukul 13.45 WIB, peluru yang bersarang di dada kirinya belum dikeluarkan.Pihak rumah sakit, yakni RSCM, hingga kini belum melakukan tindakan operasi karena hansip di Cipayung itu tidak memiliki dana.Dokter RSCM masih menunggu surat miskin dari Kelurahan Cipayung dan kartu Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai kompensasi kenaikan harga BBM milik Timin sebelum mengambil tindakan.Dengan penanganan yang belum maksimal itu berarti peluru sudah bersarang di dada Timin nyaris 19 jam. Timin kini di rawat di RSCM.Menurut pengakuan Timin saat ditemui detikcom di RSCM, Kamis (2/11/2006), pihak rumah sakit akan mengoperasinya jika sudah mengantongi kartu keluarga miskin dari kelurahan tempatnya tinggal, Gang Swasembada, Setu, Cipayung, Jaktim."Peluru belum diambil, rasanya masih sakit, ngganjel. Masih menunggu kartu miskin dan kartu BLT," kata Timin lirih sambil menahan sakit.Timin mengaku khawatir terjadi infeksi dan daya tahan tubuhnya melorot jika peluru dibiarkan lama-lama bersarang di dadanya."Kata perawat baru dirontgen. Saya takutnya kena infeksi walau sudah ada obat kan tidak jaminan," ujar Timin yang ditunggui istrinya, Maisaroh.Timin yang diinfus di bagian tangan dan kakinya mengaku sudah mendapatkan suntikan tetanus untuk mencegah terjadinya infeksi akibat luka tembak dan peluru yang masih bersarang.Menurut salah seorang perawat jaga RSCM, kartu miskin dan BLT Timin harus dilampirkan supaya pihak dokter dan laboratorium bisa mengambil tindakan."Sebelum operasi kami harus memeriksa semuanya dalam kondisi kuat, seperti jantung, paru dan kondisi darah. Sekarang baru kami ambil darahnya untuk diperiksa. Orang lab tanpa uang tidak bekerja, tidak ada hasil. Tapi kami sudah memberikan obat anti tetanus," tuturnya.Akibat tidak adanya kartu miskin, keluarga besar Timin tampak cemas. Pihak keluarga dan tetangga saat ini bahu-membahu mengurus kartu tersebut.Penembakan terhadap Timin terjadi pada Rabu 1 November 2006 sekitar pukul 19.00 WIB. Saat itu Timin sedang duduk-duduk di depan rumah setelah salat isya dan mengobrol dengan teman-temannya.Ketika itulah dia curiga dengan orang yang mondar-mandir dan menunggu di ujung jalan rumahnya."Kemudian mereka menghampiri saya. Saya tanya, nyari siapa, Mas? Dijawab, nyari adik. Adik siapa, tanya saya. Eh belum dijawab, saya langsung didor. Jaraknya hanya 1 meter," tutur Timin.Dia mengaku saat itu masih kuat dan sempat berteriak maling. Namun saat melihat darah, dia tidak kuat dan langsung pingsan. Timin kemudian dibawa ke RS Jatirahayu. Namun setelah lukanya dibersihkan, Timin dirujuk ke RS Polri. Dari RS Polri, dia dikirim ke RSCM dengan alasan tidak jelas.Saat tiba di RSCM pada pukul 21.00 WIB, pihak rumah sakit menanyakan dana dan sebagainya. Pihak rumah sakit kemudian menginfusnya dan memberikan suntikan anti tetanus. Selain dada kiri, peluru juga menembus telapak tangan kiri Timin. Sebab saat ditembak, Timin tengah memegangi dadanya. (umi/sss)



Berita Terkait