Ketar-ketir Menunggu PRT Pulang

Ketar-ketir Menunggu PRT Pulang

- detikNews
Selasa, 31 Okt 2006 12:10 WIB
Jakarta - Ada kekhawatiran menyeruak, khususnya di hati kaum ibu, menjelang berakhirnya libur lebaran. Akankan PRT mereka datang lagi dari kampung halamannya? Sosok yang terkadang tak terlalu dihiraukan dalam keseharian kita ini sungguh dinantikan.Sudah menjadi tradisi setiap menjelang lebaran, para pembantu rumahtangga (PRT) pulang alias mudik ke kampung halaman masing-masing. Rasa kangen terhadap keluarga setelah setahun bekerja tak bisa ditawar-tawar lagi. Lebaran ya harus mudik, titik!Karena itu, setiap mendekati Idul Fitri biasanya banyak ibu-ibu mulai pusing. Pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, memasak, dan bersih-bersih harus dikerjakan sendiri. Padahal pada hari raya, piring dan gelas yang kotor bisa bertambah dua kali lipat jumlahnya. Sementara banyak keluarga di Jakarta yang mempekerjakan PRT lebih dari satu orang. Satu untuk mengasuh anak, satu untuk memasak, dan satu lagi untuk berbenah atau bersih-bersih rumah. Bayangkan betapa repotnya mereka jika ketiga PRT-nya pulang kampung bareng.Nah, kerepotan itu semakin menjadi-jadi saat masa liburan lebaran berakhir. Sang majikan harus kembali ke kehidupan normalnya, bekerja di kantor atau memulai usaha lainnya. Hati mereka, khususnya pasangan yang sama-sama bekerja, pasti ketar-ketir takut sang PRT tidak kembali lagi. Mengambil PRT baru dari yayasan penyalur PRT, bukan masalah sepele. Selain lebih sering bermasalah, sulit mencari orang baru yang bisa dipercaya. Apalagi jika sang anak sudah terlanjur dekat dengan pengasuhnya yang lama. Pokoknya jika sang PRT tidak kembali semua urusan bisa runyam."Kalau pembantu tidak pulang, bisa repot deh. Soal pekerjaan, seperti mencuci dan memasak sih tidak menjadi soal. Tapi siapa yang mengasuh anak-anak kalau nanti kita bekerja," kata Ny Ratna, warga Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta, kepada detikcom, beberapa waktu lalu.Karena itu, banyak majikan rela melakukan berbagai hal agar PRT mereka sudi kembali lagi. Mulai dari tawaran kenaikan gaji, sampai fasilitas antar jemput. Bahkan ada pula yang nekat berlebaran di kampung halaman PRT-nya!"Saya dan keluarga lebaran pertama di Cilacap, ikut mudik PRT. Sebab kalau tidak begitu, dia balik laginya. Kami berangkat pada H-3, dan pulang pada hari H sore harinya," cerita Ian, warga Depok II Tengah kepada detikcom, Selasa (31/10/2006).Menurut Ian, dia rela melakukan itu karena tidak ada pilihan lain. Pekerjaan dia dan istrinya tidak memungkinkan untuk libur panjang. Pada H +2 mereka sudah harus aktif kembali. Padahal dua buah hatinya masih sangat kecil."Menitipkan anak-anak pada orang tua tidak mungkin, sebab mereka juga pasti sibuk. Begitu juga dengan keluarga kami yang lainnya, apa lagi anak-anak sudah dekat dengan mbaknya (pengasuh)," tutur Ian. Hal yang sama juga dilakukan pasangan Moro dan Nisa. Meski tidak sampai berlebaran di kampung halaman PRT-nya, mereka rela melakukan antar jemput. Pada H -2 pasangan ini mengantar PRT-nya pulang ke Cianjur dan dijemput kembali pada H +6."Yah itung-itung jalan-jalan sama anak-anak. Sebab kalau dia tidak balik lagi, yang repot juga kita sendiri. Kasihan anak-anak, tidak ada yang menjaga kalau kita berdua kerja," ujar warga Cilodong, Depok, Jawa Barat ini.Baik Ian maupun Moro menyadari ini adalah konsekwensi dari kehidupan mereka. Meminta salah satu pasangan berhenti bekerja jelas tidak mungkin dilakukan. Apalagi di masa sulit seperti ini, bisa-bisa dapur mereka tidak ngebul.Anda punya kisah serupa Ian dan Moro?Ceritakan pada kami di redaksi@staff.detik.com. (djo/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads