Satpam Tewas Gara-gara Terbalik Kibarkan Bendera Merah Putih

Satpam Tewas Gara-gara Terbalik Kibarkan Bendera Merah Putih

- detikNews
Senin, 30 Okt 2006 15:30 WIB
Banda Aceh - Malang benar nasib Mukhtar Razali (23). Pria yang sehari-hari bekerja sebagai anggota Satuan Pengamanan (Satpam) Dinas Sosial Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) tewas setelah dianiaya aparat kepolisian NAD. Penganiayaan itu dilakukan gara-gara Mukhtar Razali terbalik mengibarkan bendera Merah Putih. Terkait kejadian ini, Kapolda NAD Irjen Pol.Bachrumsyah Kasman berjanji akan menindak tegas aparatnya. Kisah pilu Mukhtar Razali berawal ketika dia bersama temannya mengibarkan bendera Merah Putih di halaman kantor Dinas Sosial Provinsi NAD pada Selasa (24/10/2006). Secara tidak sengaja, mereka mengibarkan bendera Merah Putih dengan posisi terbalik, warna merah di bawah dan putih di atas. Berkibarnya bendera Merah Putih dengan posisi terbalik tersebut memancing anggota TNI yang sedang bertugas di kediaman Panglima Kodam Iskandar Muda Mayjen Supiadin AS memanggil kedua satpam itu. Kantor Dinas Sosial Provinsi NAD hanya berjarak sekitar 10 meter dari pos jaga anggota TNI tersebut. Muhktar Razali dan temannya kemudian datang ke pos jaga TNI. "Di pos ini mereka diberi pengarahan dan pembinaan. Mereka diingatkan untuk tidak mengulangi kejadian yang sama ke depannya," terang ayah korban, Razali (54), pada wartawan beberapa hari lalu. Setelah diberi arahan, keduanya kemudian beranjak menuju tempat kerjanya lagi. Tapi, kata Razali mengutip keterangan teman anaknya, ketika kejadian, di tengah jalan mereka dipanggil oleh anggota polisi berpakaian sipil yang kebetulan berada di rumah dinas Kapolda NAD Irjen Bachrumsyah Kasman. Jarak rumah kediaman Kapolda NAD ini dengan kantor Dinas Sosial Provinsi NAD terpaut sekitar 10 meter. Begitu mereka tiba di rumah kediaman Kapolda ini, kedua satpam itu digiring ke halaman belakang oleh beberapa anggota polis. "Di belakang rumah ini mereka dipukuli oleh polisi-polisi itu. Ada tiga orang menurut saksi mata tapi satu pakai baju preman," ungkap Razali. Sepulang dari rumah dinas Kapolda ini, Mukhtar Razali terpaksa diboyong ke rumah sakit karena keadaannya terbilang kritis. Keluarga Mukhtar Razali yang diwakili adik perempuannya, Rizayani (17), kemudian mendatangi para polisi yang bertugas di rumah dinas Kapolda dan meminta pertanggungjawaban. Beberapa di antara anggota polisi itu akhirnya mengunjungi Razali ke RS Fakinah, tempat Muhktar Razali dirawat. Setelah bermusyawarah, para polisi itu kemudian meminta orang tua Razali untuk tidak memperkarakan kejadian ini. Kompensasinya, biaya perawatan Mukhtar Razali akan ditanggung. Tapi agaknya, janji para polisi itu tak berujung. Satu hari setelah kejadian tersebut, tak ada tanda-tanda anggota polisi itu datang untuk menanggung biaya perobatan, sampai akhirnya Mukhtar Razali meninggal dunia pada Rabu (25/10/2006) sekitar pukul 05.00 WIB. Beberapa hari lalu, pada wartawan, Kapolda NAD Irjen Pol.Bachrumsyah Kasman menegaskan, dirinya akan mengambil tindakan tegas terhadap anggotanya yang terlibat dalam kejadian ini. Sayangnya, belum diketahui tindakan tegas apa yang sudah diambil kepolisian NAD. Sampai siang ini, Kahumas Polda NAD, AKBP Jodi Heriadi tidak berhasil dihubungi detikcom. (ray/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads