Petasan Semarakkan Lebaran di Makkah
Selasa, 24 Okt 2006 08:08 WIB
Makkah - Semarak takbir menggema di berbagai penjuru bumi. Seraya merayakan kemenangan besar usai menjalankan ibadah ritual di bulan Ramadan."Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillah alhamdu..."Suasana semarak dirasakan di Makkah, kota suci kaum muslim. Di kota kelahiran Nabi Muhammad SAW ini merayakan hari raya tak jauh berbeda seperti umat Islam di Indonesia. Silaturahim dengan kerabat dan tetangga terdekat, hingga menyalakan petasan.Hari Raya Idul Fitri di Arab Saudi dilaksanakan pada Senin 23 Oktober 2006. Kota suci Makkah dipadati jutaan kaum muslim sejak pukul 03.00 dini hari waktu setempat. Seluruh sudut Masjidil Haram sudah dipenuhi oleh mayoritas jamaah yang berasal dari kalangan penduduk kota Makkah."Meskipun sebagian besar jamaah umroh dan iktikaf dari berbagai negara sudah meninggalkan Masjidil Haram sejak kemarin, salat Id berlangsung sangat khidmat," tutur Imam Nur Azis, warga Indonesia yang merayakan Idul Fitri di Makkah saat berbincang dengan detikcom, Senin (23/10/2006).Namun gema takbir berkumandang tak seramai di Indonesia. Di Makkah, takbir hanya dibaca berjamaah di Masjidil Haram seusai salat subuh pukul 05.30 hingga pukul 06.30, sesaat sebelum berlangsung salat Id.Idul Fitri di Arab Saudi dimanfaatkan sebagai hari untuk syiar. Banyak jamaah berkeluarga membawa anak-anak mereka ikut ke Masjidil Haram.Usai salat Id, umumnya keluarga di Arab Saudi saling berkunjung di antara kabilah mereka sembari minum qohwah -- kopi khas Arab, ditemani asidah, semacam makanan dodol terbuat dari tepung beras yang dimakan dengan minyak zaitun dan madu."Aroma rasa khasnya seperti kapulaga (hail)," tutur Imam yang turut menikmati berbagai makanan khas tersebut.Diceritakan Imam, makan, minum dan menerima tamu kabilah umumnya dilakukan di atas karpet yang digelar di atas lantai dengan sofa tempat duduk khas yang disebut majelis al Arabi."Dengan makin membanjirnya alat komunikasi handphone, sambil bercengkrama sesama tamu, anggota keluarga juga saling menelepon keluarga yang tidak dapat berkumpul pagi setelah salat Id," bebernya.Setelah basa-basi hingga pukul 10.00-an, sebagian keluarga Arab yang tidak bepergian biasanya istirahat atau tidur hingga pukul 14.00-an untuk kemudian makan siang besar."Yang juga mengherankan, suara letusan petasan mulai terdengar di sudut-sudut kompleks kota Makkah. Seperti di Indonesia, petasan ini juga dimainkan oleh anak-anak kecil para keluarga Saudi," kata Imam.KotbahKotbah salat Id di Masjidil Haram Makkah yang bertajuk "Pembelaan Kaum Muslim Terhadap Diskriminasi Bukan Bentuk Anarkisme" disampaikan oleh Dr Solih bin Alhumaid, Ketua Dewan Masjidil Haram, yang juga ketua Majelis Syuro (MPR) Arab Saudi.Dalam kotbahnya, Solih menjawab sinyalemen terhadap berbagai upaya mendiskreditkan Islam, termasuk ungkapan yang dilontarkan Paus atau penghinaan kesucian Rasulullah dalam kasus di Denmark."Menurutnya, sikap pembelaan kaum muslim terhadap mereka yang menjelekkan nabi bukan tanpa arah atau bentuk anarkisme, tetapi bukti kecintaan terhadap agama Islam itu sendiri," ujar Imam yang juga staf khusus MPR mengutip ceramah Solih.
(fjr/sss)











































