Pendapatan Calo Tiket KA di Stasiun Gambir Anjlok
Senin, 23 Okt 2006 16:55 WIB
Jakarta -
Ketatnya pengamanan di Stasiun Gambir membuat para calo tiket KA gigit jari. Penghasilan mereka rata-rata turun drastis.Meski tanpa atribut khusus, tidak sulit mencari calo tiket KA di Stasiun Gambir, Jl Medan Merdeka Timur, Jakarta. Anda hanya cukup terlihat bingung, para calo itu dengan sendirinya akan datang mendekat.Seperti yang dilakukan detikcom pada hari ini, Senin (23/10/2006). Ketika berpura-pura bingung, seorang pria berperawakan kurus tiba-tiba datang mendekat. Diawali sebuah basa-basi, pria tersebut kemudian menawarkan bantuan untuk mendapatkan berbagai tiket KA."Mau ke mana, Mas? Bisa saya bantu? Khusus buat situ nggak mahal deh, nggak jauh beda kok dengan harga resmi," sapa pria yang kemudian mengenalkan diri dengan nama Zul itu. Nama panggilan yang cukup singkat.Basa-basi itu diladeni sehingga terciptalah obrolan. Aha! Zul pun terpancing. Dia bercerita tentang lika-likunya menjadi calo tiket KA di Stasiun Gambir.Menurut Zul, profesi ini dijalaninya sejak 14 tahun yang lalu. Saat itu dirinya yang baru singgah di Jakarta sedang luntang-lantung tanpa kerjaan. Seorang kawan mengajaknya ikut bergabung menjadi calo tiket KA di Stasiun Gambir.Awalnya dia ragu-ragu menerima ajakan itu. Namun setelah beberapa kali mencoba, hasilnya ternyata lumayan. Zul pun semakin yakin menapaki kariernya sebagai seorang calo tiket KA."Hasilnya lumayanlah. Sekali nyalo minimal dapat Rp 300 ribu. Kalau rezeki lagi lapang, bisa bawa pulang Rp 700 ribu. Tapi tidak setiap hari saya menjadi calo, dalam seminggu paling-paling hanya 3 atau 4 hari," ungkap ayah dua anak ini.Masa-masa panen bagi Zul biasanya pada saat-saat long weekend. Dalam sehari puluhan tiket bisa dijualnya. Semakin banyak tiket yang bisa dijual, semakin banyak fulus yang bisa dibawa pulang. Istri dan anaknya di rumah pun akan semakin sejahtera.Tapi situasi itu tidak berlaku pada musim mudik Lebaran seperti sekarang ini. Sebab pada saat-saat seperti ini, keberadaan para calo menjadi sorotan banyak pihak. 'Orang dalam' stasiun yang biasanya mau bekerjasama, untuk sesaat akan pura-pura tidak kenal.Belum lagi penjagaan yang sangat ketat dari aparat keamanan, yang terdiri dari polisi, TNI dan satpam. Meski ada tiket di tangan, sangat sulit untuk melakukan transaksi dengan calon pembeli. Ke mana pun mereka berjalan, sepertinya selalu dikuntit petugas."Musim mudik ini ruang gerak para calo sangat terbatas. Susah sekali melakukan transaksi. Bisa bawa pulang Rp 50 ribu saja sudah bagus," ungkap Zul.Pasokan Orang DalamZul juga mengungkapkan bagaimana tiket-tiket KA tersebut bisa berada di tangannya. Menurut pria asal Medan ini, tiket-tiket tersebut dipasok oleh oknum petugas Stasiun Gambir. Namun praktik ini ditutupi seolah-olah tiket tersebut dibeli oleh perusahaan travel.Zul dan kawan-kawannya sesama calo kemudian mendapat jatah sekian tiket dari 'perusahaan travel' tersebut. Tiket-tiket itu dijual dengan harga hampir dua kali lipat.Sebagai contoh, tikat KA Argi Bromo Anggrek tujuan Surabaya yang harga resminya Rp 190 ribu hingga Rp 23o ribu, dijual dengan harga Rp 450 ribu. Tiket KA Gajayana jurusan Malang Rp 220 bisa dijual dengan harga Rp 500 ribu."Selisih harga itu dibagi-bagi antara bos (penyandang dana) dan oknum petugas Stasiun Gambir. Kalau jatah saya paling kecil Rp 20 ribu per tiket. Jadi kalau sehari bisa menjual 5 atau 10 tiket, lumayanlah," tutur Zul.Profesi calo memang sudah memberikan kehidupan tersendiri bagi Zul, istri dan anaknya. Sampai saat ini dia belum berpikir untuk meninggalkan profesinya itu. "Belum ada petunjuk," ujarnya sambil tersenyum. Obrolan kami pun berakhir.
(djo/sss)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































