Menag Meminta Perbedaan 1 Syawal Tidak Membuat Perpecahan
Minggu, 22 Okt 2006 20:15 WIB
Jakarta - Masyarakat diminta bisa memahami adanya perbedaan 1 Syawal 1427 Hijriah atau Hari Raya Idul Fitri. Perbedaan ini jangan sampai menimbulkan perpecahan."Kita harus pahami bahwa ada masyarakat yang punya keyakinan yang berbeda, seperti Muhammadiyah. Tapi, Mudah-mudahan kita bisa berjiwa besar dan menahan diri. Semoga perbedaan tersebut tidak membuat perpecahan," ujar Menteri Agama M Maftuh Basyuni usai sidang Itsbat di Departemen Agama, Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Minggu (22/10/2006). Seperti diketahui Menag M Maftuh Basyuni telah memutuskan 1 Syawal 1427 H jatuh pada hari Selasa 24 Oktober 2006, sebab sebagian besar peserta sidang menyatakan belum melihat hilal. Sementara Muhammadiyah tetap berkeyakinan bahwa 1 Syawal 1427 H jatuh besok, Senin tanggal 23 Oktober 2006.Sebelumnya, dalam pemberian pandangan dalam sidang tersebut, Jamaluddin dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyatakan, Muhammadiyah, Persis dan PBNU dalam menentukan almanak 1 Syawal selalu berbeda. Untuk mempersatukan pendapat yang berbeda tersebut diusulkan agar semua ormas Islam berkumpul sebelum bulan Ramadan berikutnya untuk menentukan kriteria bersama dalam menentukan 1 Syawal."Karena tahun 2007, perbedaan ini akan terjadi lagi, kalau kriterianya tetap seperti sekarang. Oleh karena itu, Menteri Agama harus memfasilitasi pertemuan tersebut," pinta Jamaluddin. Menanggapi penyataan tersebut, Maftuh Basyuni menyatakan dukungannya dan menyetujui serta berniat memfasilitasi pertemuan tersebut. "Cuma harus tolong diingatkan agar saya tidak lupa. Tahun lalu saya sudah janji. Semoga tidak janji palsu, pak Jamaluddin," katanya sambil tersenyum. Hal senada tentang adanya pertemuan ormas Islam sebelum bulan Ramadan berikutnya untuk menentukan kriteria 1 Syawal atau tingginya hilal bulan diamini oleh Kepala Pusat Studi Hisab (PSH) Suryani Ismail. Dalam pertemuan tersebut, Suryani juga meminta agar Muhammadiyah mau mengubah cara menetapkan 1 Syawal."Saya heran cara pandang Muhammadiyah menafsirkan hilal. Muhammadiyah jangan malu mengubah cara menetapkan 1 Syawal. Kalau yang seperti sekarang ini, hilal yang sudah wujud tapi tidak bisa dilihat, diitsbat saja, sehingga hilal yang tidak bisa terlihat, puasanya bisa digenapkan 30 hari," jelas Suryani.
(zal/zal)











































