Repotnya Mudik KA Dengan Banyak Barang
Minggu, 22 Okt 2006 09:21 WIB
Jakarta - Kenyamanan mudik dengan kendaraan umum jelas terganggu dengan berjubelnya pemudik, apalagi jika terlalu banyak membawa barang. Kondisi ini juga dirasakan pemudik yang menggunakan kereta api (KA)."Iya sih repot, lihat nih Mbak, saya bawa banyak barang," ujar Atik sambil menunjuk 6 kardus di sekitar dia duduk, saat menunggu kereta yang akan membawanya ke Bojonegoro di Stasiun Gambir, Jakarta, Minggu (22/10/2006).Namun, Atik rela berepot-repot demi kegembiraan keluarganya mendapat oleh-oleh. Kardus-kardus yang dibawa perempuan paruh baya ini dijejali dengan pakaian dan makanan. Dia pun terpaksa menggunakan taksi dari rumahnya yang berlokasi di daerah Kelapa Gading."Dari bawah stasiun ke sini juga harus keluar ongkos lagi untuk kuli panggul," lanjut ibu yang berprofesi sebagai pedagang ini.Untuk 6 kardus, menurut dia, kuli panggul minta dibayar Rp 60 ribu. Namun setelah ada tawar menawar, disepakati pembayaran Rp 30 ribu. Pembayaran dilakukan saat semua barang sudah diangkut ke atas KA.Untuk menghindari kerepotan, Kepala Stasiun Gambir Dwiyana Slamet mengimbau para penumpang KA agar tidak membawa barang berlebihan saat mudik."Dan untuk yang bawa barang lebih dari 20 kg akan kita kenakan charge bagasi," ujar Dwiyana kepada detikcom.Dicontohkan dia, untuk KA Gumarang jurusan Jakarta-Surabaya Pasar Turi, setiap barang yang melebihi 20 kg akan dikenakan tambahan biaya Rp 600 per kg. Barang yang dicurigai beratnya lebih dari 20 kg akan di timbang di loket utara Stasiun Gambir, yakni di bagian pelayanan bagasi."Biasanya kuli panggul di stasiun akan memberi tahu petugas," lanjut Dwiyana.Menurut dia, kuli panggul bukanlah pegawai KA. Namun petugas PT KA kerap memberikan pembinaan kepada mereka. Biasanya 1 koli (barang) yang diangkat biayanya Rp 5.000, namun banyak orang yang lantas memberi uang berlebih."Selama ini tidak ada yang komplain soal kuli panggul, hanya sayangnya mereka ini sering mengejar kereta yang belum berhenti untuk berebut membawakan barang penumpang, ini kan berbahaya," tandas Dwiyana.
(nvt/fay)











































