Kincir Ramadan 4
Islamnya Marianne Vorthoren
Jumat, 20 Okt 2006 22:01 WIB
Den Haag - Salah satu orang Belanda asli yang beralih ke Islam adalah Marianne Vorthoren. Ia kini bergiat menunjukkan bahwa Islam tidak seperti kata para pembuat opini.Opini negatif terhadap Islam tidak kuasa menyentuh Marianne. Seperti disinggung pendeta Rentier, wanita cantik yang lahir dan dibesarkan di Rotterdam ini setelah masuk Islam menjadi penganut yang taat dan melebihi umumnya orang Islam sejak lahir. Ia menjalankan syariat Islam dengan taat, hingga ke soal aturan berpakaian.Kini Marianne menjadi pemuka Stichting Islam en Dialoog (Yayasan Islam dan Dialog) yang menjadi medium untuk menunjukkan Islam seperti apa adanya, sebagai sumber perdamaian dan toleran, tidak seperti menurut para pembuat opini. Ia antara lain giat mengorganisir pertemuan rutin antaragama dengan kelompok-kelompok peminat untuk mengunjungi masjid, gereja, sinagog, bahkan rumah ibadah lainnya."Tahun-tahun belakangan Islam disorot negatif. Namun sebenarnya permasalahan yang banyak muncul lebih memiliki latarbelakang ekonomi dan kebudayaan. Dan itu muncul karena terlalu kurang kontak antarsesama," kata Marianne seperti dikutip Libelle edisi pekan ke-3 September 2006. Majalah wanita terkemuka Belanda ini memasukkannya sebagai nominator untuk Bintang Libelle, penghargaan untuk tokoh wanita berjasa.Marianne berharap dengan kegiatannya itu akan muncul saling pengertian di antara manusia dengan berbagai latarbelakang agamanya. Ia juga menjadi pelopor dibentuknya 'biro perjalanan antaragama'. Tidak dalam makna harfiah, namun maksudnya adalah sebuah medium sukarela untuk melihat serta mengunjungi apa dan bagaimana agama lain."Prasangka buruk dan salah pengertian menjadi hilang," katanya.Salah satu resep yang dikemukakan dan dicontohkan Marianne dalam kontak dengan agama-agama lain adalah tidak membicarakan soal keimanan atau keyakinan."Kami tidak membicarakan mengenai Islam atau Kristen, tapi mengenai apa arti agama dalam hidup kita," ujarnya.Menurut Marianne, sebuah dialog adalah bukan "mari kita saling bertemu dan akan saya jelaskan bahwa agama anda salah". Bukan seperti itu. Dialog yang dirintisnya adalah dengan saling berkenalan sebagai sesama manusia dan sebagai orang beragama. Intinya adalah mengedepankan ahlak mulia. Setiap ada perbedaan juga tidak lalu disembunyikan atau diabaikan."Betapa kita banyak memiliki persamaan satu sama lain," cetus Marianne, menirukan reaksi yang hampir selalu muncul dari para peserta.Marianne mengungkapkan bahwa apa yang dirintisnya kini kebanjiran peminat. Peserta yang pernah mengikuti acara yang dikemasnya menjadi agen iklan dari mulut ke mulut. Saat ini banyak permohonan masuk untuk mengunjungi dan melihat beberapa rumah ibadah dari dalam, antara lain sinagog. Permohonan juga datang dari sekolah-sekolah. Dalam waktu dekat Marianne bersama 200 siswa sekolah menengah akan mengunjungi sebuah masjid.Ia mengaku mendapat kepuasan batin tak terhingga ketika melihat bagaimana orang-orang, yang sejatinya sangat berjauhan satu sama lain, bisa berdialog dengan baik. "Namun saya akan jauh lebih senang jika dialog itu tidak hanya mengenai penghayatan agama, namun bisa mengarah ke upaya bersama untuk masyarakat. Masing-masing dengan inspirasinya sendiri, namun untuk tujuan bersama," demikian muslimah Belanda ini.Keterangan Foto: Muslimah Belanda Marianne Vorthoren (sumber: Libelle).
(es/es)











































