Salat Id di Yogya Dua Kali
Jumat, 20 Okt 2006 13:53 WIB
Yogyakarta - Salat Idul Fitri 1427 H di Yogyakarta hampir dipastikan digelar dua kali, karena adanya perbedaan penentuan jatuhnya 1 Syawal. Sebagian besar warga Muhammadiyah di Yogyakarta akan menggelar salat Id pada hari Senin (23/10/2006), sedang sebagian masyarakat yang lain akan menggelar salat Id pada hari Selasa (24/10/2006).Berdasarkan pantauan detikcom, Jumat (20/10/2006), Panitia Hari Besar Islam (PHBI) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sudah menyiapkan berbagai keperluan untuk pelaksanaan salat Id pada hari Senin pada pukul 06.30 WIB. Beberapa masjid yang ada dikampung-kampung Kota Yogyakarta, terutama yang menjadi basis Muhammadiyah telah mengumumkan pelaksanaan salat Id pada hari Senin di beberapa tempat yang telah ditentukan. Beberapa tempat yang akan digunakan untuk salat Id hari Senin, antara lain, lapangan parkir Mandalakrida, Stadion Kridosono, Alun Alun Utara, Alun Alun Selatan, Lapangan Karang Kotagede, Lapangan Minggiran, dan lain-lain. Masjid Agung Bantul di Jl Sudirman Bantul, akan menggelar salat Id pada hari Senin dengan imam dan khotib mantan Ketua MPR Prof Dr HM Amien Rais. Hanya saja, spanduk atau poster yang berisi seruan, jadwal dan imam serta khotib salat Id belum ada yang terpasang di sekitar Yogyakarta.Di beberapa wilayah di Bantul, Sleman dan Kulonprogo yang menjadi basis warga Nahdlatul Ulama (NU) di DIY, para nahdliyin masih menunggu hasil keputusan rukyah yang akan dilakukan pada hari Minggu (22/10/2006). "Kami masih menunggu hasil rukyah Minggu besok dan pengumuman resmi PB NU," kata Wakil Ketua PW NUDIY Dr Ir Muhammad Maksum. Untuk menjaga ketenteraman umat, PBHI Kota Yogyakarta memutuskan untuk memfasilitasi penyelenggaraan salat Id dua kali. Bertempat di halaman Balaikota Yogyakarta di Timoho, salat Id pada hari pertama dilakukan dengan imam dan khotib Sunardi Syahuri, sedang pada hari kedua dengan imam dan khotib HM Affandi.Sementara itu secara terpisah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY KH Thoha Abdurrahman mengatakan, jika terjadi perbedaan 1 Syawal 1427 H, hendaknya tidak perlu dijadikan sebagai pemicu perpecahan antarumat Islam. Perbedaan itu hendaknya dijadikan rahmat dari Allah SWT kepada umat Islam terutama di Indonesia."Silakan umat Islam mau ikut Idul Fitri 23 Oktober atau 24 Oktober, yang penting niat dan harus saling menghormati, tak perlu saling menyalahkan," katanya.
(bgs/asy)











































