Kincir Ramadan 3
Bumerang Pencitraan
Jumat, 20 Okt 2006 12:59 WIB
Den Haag - Pencitraan negatif yang gencar tentang Islam dapat menimbulkan efek bumerang. Orang justru akan penasaran dan tertarik jika apa yang ditemui secara fakta berbeda dengan pencitraan itu.Semakin 'dibicarakan' oleh para pembentuk opini, Islam justru semakin deras masuk pusat perhatian. Media cetak, radio, televisi, internet seolah malah menjadi medium promosi. Meskipun dari pendekatan negatif, namun orang akhirnya terpicu untuk tahu lebih jauh lagi. Buku-buku Islam pun diburu. Data Islamitisch Nederlandstalige Lectuur (Lektur Berbahasa Belanda) menunjukkan bahwa Al-Quran dan buku-buku berikut ini menjadi Top 5 Bestsellers: De Edele Koraan (Al-Quran Mulia, terjemahan Al-Quran dalam bahasa Belanda), Gids voor het Gebed (Petunjuk Shalat), Vesting van de Moslim (Benteng Muslim, kumpulan teks doa), Handboek voor Moslimvrouwen (Buku Pedoman Muslimah) dan Geschiedenis van de Profeten (Sejarah Nabi-nabi).De Edele Koraan memiliki nilai istimewa, sebab selain paling laris dicari orang, terjemahan Al-Quran dalam bahasa Belanda ini merupakan karya orang Indonesia, Dr Sofjan S. Siregar dkk., melalui yayasan yang dipimpinnya: Islamistiche Cultureel Centrum Nederland/ICCN (Pusat Kebudayaan Islam Belanda). Dalam tim Sofjan terdapat orang asli Belanda yang masuk Islam, Ahmad Raams.Seorang tokoh gereja melalui programa Netwerk pernah mengingatkan bahwa pencitraan negatif yang gencar tentang Islam dapat menimbulkan efek bumerang. "Orang justru akan penasaran dan tertarik jika apa yang ditemui secara fakta berbeda dengan pencitraan itu. Dan itu manusiawi," katanya. Peringatan tersebut bukan tidak berdasar. Di tengah gelombang opini negatif itu pemeluk Islam dari kalangan pribumi Belanda malah menunjukkan bertambah. Koran Nederlands Dagblad (8/9/2006) mengungkapkan bahwa jumlah anak muda Belanda yang masuk Islam semakin meningkat. "Memang belum ada gelombang massal, namun belakangan semakin banyak anak muda yang masuk Islam. Jumlahnya setidaknya mencapai puluhan per tahun," kata Pendeta Cees Rentier yang dimintai pendapat Nederlands Dagblad.Rentier selanjutnya menambahkan bahwa orang Belanda beralih agama ke Islam melalui pernikahan adalah fenomena kuno. Namun beralih iman ke Islam yang terjadi pada anak-anak muda tanpa medium pernikahan ini merupakan perkembangan yang betul-betul baru. "Melalui kontak dengan pemuda muslim, seringkali berpendidikan tinggi dan berbahasa Belanda sempurna, mereka dengan penuh keyakinan berpindah ke agama Islam. Ini perkembangan baru. Di sini juga ikut menentukan: bahwa mereka semakin intensif ketemu teman sebaya yang muslim di sekolah, akademi dan universitas atau juga di tempat kerja pengisi liburan," demikian Rentier.Menurut Rentier, anak-anak muda terutama yang pada fase pubertas menjadi lebih kritis terhadap institusi agama dan keyakinan orangtua mereka. Dua kekuatan islam yang menjadi daya tarik bagi anak-anak muda itu, kata Rentier, adalah kesederhanaan dan kejelasan ajarannya. Rentier mendapati bahwa anak-anak muda Belanda yang masuk Islam menjadi jauh lebih saleh dan disiplin dibandingkan dengan umumnya Islam keturunan di kalangan migran Turki dan Maroko.Beberapa anak muda yang lebih rasional, papar Rentier, justru memilih Islam karena dalam institusi agama mereka lebih banyak mengenai perasaan dan penghayatan. "Mereka lebih merasa pas dengan cara tak bersyarat yang dilakukan umat Islam dalam menjalankan agamanya," demikian Rentier.Centraal Bureau voor de Statistiek/CBS (Biro Pusat Statitik) memperkirakan jumlah penduduk beragama Islam di Belanda pada 2006 akan tembus angka 1 juta orang dan jumlah ini akan terus bertambah. Pada akhir 2005 tercatat 950.000 orang, di mana 6.000 orang adalah asli Belanda dan 40.000 orang adalah muslim Barat. Setiap tahunnya tercatat ada 200 orang asli Belanda yang beralih ke agama Islam. Keterangan Foto:1. (Cover) Masjid Al-Aqsa, Den Haag.2. (Atas) Interior Masjid Al-Aqsa, Den Haag. Awalnya Sinagog, sejak 1987 dibeli jadi masjid.
(es/es)











































