Jualan Masker Asap untuk THR
Kamis, 19 Okt 2006 13:08 WIB
Pekanbaru - Di balik musibah ada rezeki. Di balik asap, ada potensi THR. Itulah setidaknya yang dirasakan Ermawati, guru honorer di SD 07 Pekanbaru. Liburan sekolah ini dia maksimalkan untuk mencari uang tambahan guna berlebaran nanti. Caranya sangat sederhana. Wanita berjilbab ini memanfaatkan asap yang terus menyelimuti Pekanbaru. Dia melihat pemerintah daerah belum pernah membagikan masker gratis pada warga sejak asap menyelimuti. Kondisi ini dia gunakan untuk berjualan masker di Jalan Sudirman, jalan protokol di Pekanbaru. "Maskernya laris manis juga, Bang. Lumayanlah bisa untuk menambah uang saku di lebaran ini. Daripada bengong di rumah, lebih baik awak jualan masker. Buat apa gengsi, yang penting cari duit dengan cara yang halal," kata Ermawati kepada detikcom, Kamis (19/10/2006). Erma berbisnis ditemani kakak sepupunya yang juga seorang ibu rumah tangga. Ide jualan masker ini muncul setelah melihat kondisi kabut asap yang tak kunjung hilang di Pekanbaru. Apalagi pemda memang tidak pernah membagikan masker. Erma kulakan masker di apotek dengan harga satu lembar masker Rp 700. Masker itu dilegonya Rp 1.500/lembar. Untuk masker yang sedikit bagus dengan bentuk yang menutup mulut modalnya Rp 1.500 dan dijual seharga Rp 2.500. "Saya sudah sepekan berjualan di sini. Tapi laris tidaknya ini tergantung ketebalan kabut asap. Kalau asap di Pekanbaru sangat tebal, pasti masker kita laris. Paling jualan 3 jam saja sudah ludes," kata Erma. Selama Erma berdagang, tidak sedikit pula warga yang meminta maskernya dengan gratis. Banyak warga pengguna sepeda motor yang menghampirinya. Mereka menyangka masker yang ditenteng Erma dibagikan gratis oleh Pemda. "Heran ya, untuk kesehatan aja kok maunya gratis," ketus Erma. Selama berjualan masker setiap harinya Erma bisa meraup keuntungan minimal Rp 40 ribu. Namun, bila kondisi asap kiat parah dengan jarak pandang yang mulai terbatas, maka dagangan maskernya bisa lebih banyak laku. "Kalau asap benar-benar tebal, saya bisa meraup untung minimal Rp 70 ribu/hari," katanya. Foto:Erma melayani pembeli
(cha/nrl)











































