Reaktif Tangani Aceh, Kriminalitas Meningkat
Kamis, 19 Okt 2006 08:58 WIB
Banda Aceh - Setiap permasalahan tidak bisa ditangani secara reaktif dan terburu-buru, sebab bisa berakibat fatal. Suasana damai dan tenang di Aceh bisa terancam karena meningkatnya angka kriminalitas.Hal itu disampaikan dalam rilis pers bersama yang diterima detikcom, Kamis (19/10/2006) dari LBH Banda Aceh, Kontras Aceh, Gerak Aceh, dan Komite Monitoring Perdamaian dan Demokrasi (KMPD).LSM itu mengumumkan ada 70 kasus kriminalitas pada Agustus 2005-Oktober 2006 di seluruh Aceh. Tiga puluh kasus terjadi pada rentang waktu Agustus-Oktober 2006.LSM di Aceh kemudian mengeluarkan pernyataan bersama yang mengkritik penanganan kepolisian dan TNI dalam penanganan kriminalitas di TNI. Kepolisian dan TNI dinilai bersikap terburu-buru dan reaktif. Padahal sikap seperti ini akan berujung pada terciptanya ketidaknyamanan penduduk, munculnya spiral kekerasan dan pungli yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi.Hal yang demikian menurut gabungan LSM tersebut dapat membahayakan proses reintegrasi yang sedang berlangsung. Apalagi tiga bulan mendatang, Aceh akan melangsungkan pilkada untuk yang pertama kalinya.Mereka berpendapat ada dua penyebab peningkatan kriminalitas. Pertama adalah tingat kemiskinan yang tinggi pasca bencana tsunami, dan yang kedua adalah gagalnya proses re-integrasi yang dilakukan oleh pemerintah pasca demobilisasi dan dekomisioning.Terkait masalah ini gabungan LSM di Aceh mengeluarkan beberapa desakan antara lain agar masa penugasan Aceh Monitoring Mission (AMM) diperpanjang dan dibuka kembali perwakilannya sehingga agenda reintegrasi tuntas.Selain itu Badan Reintegrasi Damai Aceh (BRDA) yang selama ini dinilai tidak mampu mengelola dana reintegrasi harus direposisi dan rekonstruksi.
(gah/nvt)











































