Benteng Marlborough Bengkulu
Antara Cinta dan Pelestarian Sejarah
Kamis, 19 Okt 2006 06:10 WIB
Jakarta - Kebiasaan warga Bengkulu saat Ramadan adalah mendatangi Benteng Marlborough. Benteng yang dibangun tahun 1714 ini menjadi lokasi ngabuburit warga sambil menunggu buka puasa. Bahkan usai sahur tempat ini tetap ramai.Setiap hari tak kurang dari 100 warga berkumpul di Benteng Marlborough, Pantai Panjang, dan Tapak Paderi. Ada sja yang dilakukan warga, dari sekadar bercengkerama hingga mencari pasangan. Maklum, muda-mudi mendominasi tempat itu.Seperti diakui Rio. Selain menambah teman dan melupakan sejenak rasa lapar, pacar pun bisa didapat. "Di sini enak mas pemandangannya indah, dekat laut. Kita juga bisa cari pacar," kata Rio, Kamis (19/10/2006).Menurut Rio, tak sedikit orang yang mendapat jodoh di tempat itu. "Dari kenalan biasa, sampai nikah itu banyak," lanjut dia sambil tersenyum. Hmmm.Tak jarang kelompok band lokal menggelar konser musik gratis. Di sekitar benteng, berjajar warung yang menjajakan makanan buka puasa sepeti kolak, kue, dan es kelapa muda.Di pagi dini hari, usai sahur, banyak masyarakat Bengkulu yang berolahraga atau sekadar jalan-jalan menghirup segarnya udara pagi. Bahkan pemandangan matahari terbit bisa dilihat dengan jelas di laut.Benteng ini dibangun oleh Gubernur Yoseph Collet asal Inggris yang menjajah Bengkulu pada tahun 1714. Pembangunan benteng berlangsung selama 5 tahun hingga 1719. Informasi itui ditulis dalam prasasti dan penjelasan di dinding benteng. Benteng seluas 3,5 hektar ini pernah menjadi tempat penahanan Presiden I RI Soekarno saat dibuang ke Bengkulu.Bangunan itu memiliki arti sejarah karena saksi bisu perlawanan masyarakat Bengkulu saat melawan penjajah Inggris. Keutuhan bangunan tetap dipelihara setelah dipugar pada 1984. Apalagi tidak ada coretan jahil di dinding benteng. Hanya ada gambar kompas di ruang tahanan. Gambar itu dilukis dengan menggunakan darah. Konon kabarnya gambar itu dilukis oleh orang Belanda yang ditahan Inggris.Jadi, Benteng Marlborough tidak sekadar saksi sejarah perjuangan kemerdekaan, tapi juga jadi saksi perjuangan cinta bagi beberapa orang.
(nvt/nvt)











































