Hutan Terbakar Lagi, Riau Kembali Berselimut Asap
Rabu, 18 Okt 2006 18:24 WIB
Pekanbaru - Hilang sebentar, eh muncul lagi. Begitulah kabut asap di Riau. Baru dua hari langit sempat sedikit cerah, hari ini Rabu (18/102/006) langit kembali diselimuti asap. Penyebabnya tidak lain, hutan di Riau kembali terbakar. Hanya hitungan dua hari saja langit Riau sempat membiru dengan jarak pandang yang normal. Udara sejuk pun dinikmati masyarakat. Tapi kondisi itu tak bertahan lama. Hari ini, langit tak lagi terlihat biru, tapi sudah berubah menjadi warna putih. Itu menunjukan bahwa udara di Riau kembali diselimuti asap dari aktivitas kebakaran hutan dan lahan."Kita sempat lega asap menghilang dari Riau selama dua hari. Eh tapi hari asap tebal kembali menyelimuti kota Pekanbaru. Kita mau keluar dengan membawa anak-anak pun takut. Sebab, belakangan ini anak saya paling bungsu suka demam kalau diajak keluar rumah, dan itu karena kabut asap," kata Ny Halimah Siregar, salah seorang ibu rumah tangga di Jl Rambutan Pekanbaru. Asap yang kembali menyelimuti Pekanbaru ini memang membuat kecewa warga. Sebab baru tahun inilah, selama menjalankan ibadah puasa, warga merasa badannya lebih cepat lemas dan sering batuk-batuk akibat serangan asap. "Heran kita liat pemerintah Riau. Sudah sejak dulu masalah asap ini tak pernah terselesaikan dengan baik. Tak pernah kita lihat di media perusahaan yang melakukan pembakaran diseret ke meja hijau," timpal Hendrizal, salah seorang pegawai bank swasta di Pekanbaru. Lantas mengapa asap bisa kembali menyelimuti langit Riau? Menurut Direktur Walhi Riau, Jhoni S Mundung, hal ini karena hutan di Riau kembali terbakar. Misalnya saja, dua hari ini kawasan konservasi gajah di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) kembali terbakar lebih dari 100 hektar."Kondisi ini tentulah kembali memperburuk kondisi udara di Riau yang saat ini kembali diselimuti asap. Kawasan konservasi itu sangat rawan akan kebakaran hutan karena memang hutannya sebagian sudah digunduli untuk dijadikan perladangan dan perkebunan kelapa sawit milik masyarakat di sekitarnya," kata Mundung.
(cha/asy)











































