Berdoa Redam Bunuh Diri
Rabu, 18 Okt 2006 12:02 WIB
Jakarta - Pernahkah merasakan ini: masalah menggunung sepertinya tidak ada jalan untuk memecahkannya? Pikiran pun jadi suntuk dan serasa mengakhiri hidup adalah solusi terbaik? Jika perasaan itu sesekali berkelebat, segeralah berdoa.Sebab doa diyakini mampu mengurangi tekanan jiwa. Dengan doa, emosi yang terpendam dapat tersalurkan lebih baik. Namun bukan berarti sering berdoa tekanan jiwa lalu hilang serta merta lho! "Berdoa artinya ia ingin keluh kesahnya terluapkan. Kepada Tuhan, dengan disertai keyakinan, luapan emosi itu tersalurkan, "ungkap pakar psikologi massa sekaligus cendekiawan muslim Jalaluddin Rakhmat usai dialog publik Stop Stigma dan Cegah Bunuh Diri di Teater Komunitas Utan Kayu, Jl Utan Kayu No. 68H, Jakarta Timur, Selasa (17/10/2006). Tapi berdoa tidak cuma komat-komit tanpa rasa. Meski datang dari lubuk hati terdalam. "Bukan berarti sering berdoa stressing jiwa terhapus. Masih tergantung dengan kualitas dan bobot doa. Jika hanya berdoa tanpa merasakan kehadiran Tuhan, ya tidak ada efeknya," tambah Kang Jalal. Menurutnya, doa menstimuli melepaskan emosi dan menjadikan jiwa lebih tabah. Secara psikologis, doa menjadi katarsis luapan keluh kesah. "Doa ikut mendorong stimulus. Doa menjadi katarsis. Itu cara kita untuk berkeluh kesah dan tahu bahwa Tuhan sayang kita," cetusnya. Kang Jalal juga menjelaskan keterkaitan erat antara doa dan agama. Ia menuturkan, dengan berdoa berarti mengakui kehadiran Tuhan dan agama. Bahkan keyakinan terhadap agama yang melarang bunuh diri dapat menurunkan angka kasus bunuh diri. "Dalam salah satu agama dijelaskan bahwa bunuh diri adalah dosa besar. Ia tidak boleh dilakukan. Kontrol inilah yang selalu diingat untuk tidak melakukan bunuh diri," tandas Kang Jalal.
(Ari/nrl)











































