Seribu Pedagang Mi Rebus & Burjo di Yogya Mudik Bareng
Rabu, 18 Okt 2006 11:31 WIB
Yogyakarta -
Sekitar 1.000 edagang mi rebus dan bubur kacang ijo (burjo) di Yogyakarta dan sekitarnya mudik bareng ke Jawa Barat. Mereka mudik ke Kuningan, Cirebon dan Tasikmalaya.Acara mudik bareng para pedagang dan pemilik warung mi rebus dan burjo itu hari ini, Rabu (18/10/2006) dipusatkan di halaman parkir Monumen Yogya Kembali di Ringroad Utara, Sariharjo, Ngaglik, Sleman. Sedikitnya 25 bus pariwisata dengan fasilitas AC dan video dicarter PT Indofood Sukses Makmur sebagai pemrakarsa acara. Di tempat itu juga didirikan panggung musik hiburan.Sejak pukul 08.30 WIB, mereka datang berombongan menuju tempat pemberangkatan. Dari beberapa tempat warung mi rebus yang tersebar di Yogyakarta itu, mereka datang menumpang taksi secara patungan. Namun ada pula yang datang menumpang bus kota. Pakaian yang dikenakan pun cukup rapi, dengan kaus atau baju yang dimasukkan ke dalam celana jins atau celana kasual. Sebagian dari mereka ada yang membawa handphone dilengkap headset yang terpasang di salah satu telinga. Tidak lupa mereka membawa satu dua kardus bekas pembungkus mi untuk membawa oleh-oleh ke kampung. Satu per satu kardus bawaan mereka dimasukkan ke dalam bagasi bus setelah diberi tanda dan nama pemilik.Setelah memasukkan barang dan tas bawaan, mereka berkumpul sesama pedagang yang berasal dari satu daerah. Sebagian besar berteduh di bawah pohon Ketepeng yang ada di tempat parkir, sebagian lagi berkumpul shelter-shelter milik para pedagang suvenir di monumen. Namun ada pula yang ikut berjoget di depan panggung."Selain bawa makanan untuk lebaran nanti, juga bawa pakaian batik untuk oleh-oleh keluarga," kata Kusaeri (30), salah seorang pedagang mi rebus asal Kuningan yang berjualan di kampung Pogungkidul, kepada detikcom.Oleh-oleh berupa pakaian batik akan diberikan kepada kedua orangtua dan keluarga yang lain yang berada di Kuningan. Sedang makanan kecil akan digunakan untuk hidangan saat lebaran nanti. Selain itu, dia juga membawa sejumlah uang yang akan digunakan untuk memperbaiki rumah yang ada di kampung."Kalau uang sebenarnya tiap dua bulan sekali sudah sering kirim ke rumah, kali ini juga bawa karena ada sedikit tabungan yang bisa digunakan di rumah," katanya.Menurut dia, sejak Selasa kemarin sehabis buka puasa sekitar pukul 21.00, warungnya tempat berdagang sudah tutup. Sebagian perkakas seperti panci, kompor, mangkuk dan gelas sudah dibersikan dan disimpan di warung. "Depan pintu juga kami pasang tulisan tutup mudik lebaran sampai 31 Oktober," kata Kusaeri yang berdagang burjo di sebelah utara Fakultas Teknik UGM sejak tahun 1999.
(bgs/nrl)










































