Pesan Bunuh Diri dalam Sinetron Dapat Terekam pada Balita

Pesan Bunuh Diri dalam Sinetron Dapat Terekam pada Balita

- detikNews
Selasa, 17 Okt 2006 21:45 WIB
Jakarta - Anak-anak di rumah diminta waspada terhadap tontotan televisi. Karena bukan tidak mungkin pesan bunuh diri dalam sinetron terekam dalam benak anak-anak dan terucap ketika sedang kesal lantaran sesuatu hal."Kalau bisa jam menonton TV anak-anak bisa dibatasi karena pada rentang usia 5 tahun suka meniru. Termasuk pesan bunuh diri dari sinetron," kata psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Atmajaya, Irwanto dalam dialog publik "Stop Stigma dan Cegah Bunuh Diri" di Teater Komunitas Utan Kayu, Jl Utan Kayu No. 68H, Jakarta Timur, Selasa, (17/10/2006).Pernyataan itu terlontar untuk menjawab salah satu penanya yang menyayangkan anaknya telah berujar bunuh diri karena kesal permintaanya tidak dituruti."Waktu itu anak saya tengah kesal. Lalu ia berkata, lebih baik mati saja daripada dimarahin terus," kata Sulastri penanya dialog yang putrinya baru berumur 5 tahun itu. Agak terkejut dengan komentar anaknya, Sulastri gagap. Ia susah untuk menerangkan, karena konsep bunuh diri masih jauh dari pemahaman anak kecil."Saya bingung kalau anak saya sudah berkata demikian. Saya tidak bisa menerangkan. Kalau sudah begitu, saya diam saja. Anak saya berkata begitu meniru di sinetron," tambahnya.Memandang persoalan tersebut, Irwanto mendorong kemampuan orangtua untuk dapat mendampingi anak ketika menonton televisi. Selain itu, ia mengharapkan orangtua tidak sering menyalahkan kegiatan anak-anak."Mendampingi anak dalam melihat TV itu perlu. Selain itu, tekanan terbesar bagi perkembangan jiwa anak jutru dari keluarga sendiri dan sekolah. Banyak larangan dalam keluarga dan sekolah menjadikan anak merasa dipenjara," paparnya.Jika beban itu terus menumpuk, kondisi jiwa anak menjadi semakin tertekan dan hilang kepercayaan diri. Alhasil, anak cenderung mudah putus asa dan tidak terhindar dari upaya bunuh diri."Pada kondisi tertekan, ketika anak punya masalah, anak justru cenderung melihat dirinya bagian dari masalah. Solusinya, berikan waktu luang bagi anak untuk berbicara, biar orang tua yang mendengar," ungkap Irwanto memberi resep. (Ari/ahm)


Berita Terkait