Masyarakat Indonesia-Belanda Bahas Pemberdayaan Kerjasama

Masyarakat Indonesia-Belanda Bahas Pemberdayaan Kerjasama

- detikNews
Selasa, 17 Okt 2006 15:03 WIB
Masyarakat Indonesia-Belanda Bahas Pemberdayaan Kerjasama
Den Haag - Potensi Belanda untuk mendukung pembangunan Indonesia sangat besar, baik dari pemerintah maupun masyarakatnya. Namun sayang hal itu belum teroptimalkan.Demikian kesadaran yang mengemuka pada lokakarya bertajuk Empowering Community to Community: Indonesia-The Netherlands di aula KBRI Den Haag, 14/10/2006. Lokakarya ini merupakan buah kerjasama PPI Belanda, ISTECS, Indonesian Law Society, ICMI Belanda, FKMIN, KBRI Den Haag, Ranesi, dan Stichting (Yayasan) Sapu Lidi.Kepala Bidang Informasi dan Kebudayaan, Siswo Pramono, mengungkapkan bahwa setiap tahunnya Belanda menganggarkan 0,8% dari Produk Domestik Bruto (PDB) untuk bantuan pembangunan. Sejumlah 83,7 juta Euro digelontorkan ke Indonesia untuk membantu berbagai sektor pembangunan yang bisa dimanfaatkan baik pemerintah maupun swasta atau publik di Indonesia. "Belanda sendiri merupakan negara donor paling komit di antara 21 negara donor kaya, yang membantu negara-negara miskin. Sebagai perbandingan: Jepang di peringkat 21 dan AS peringkat 13," kata Siswo, mengutip data The Washington-based Center for Global Development. Negeri Kincir Angin ini terutama unggul pada tujuh bidang kebijakan: bantuan dana, perdagangan, investasi, migrasi, lingkungan, keamanan dan teknologi. Menurut Siswo, penilaian itu dengan sendirinya membawa horison peluang dan tantangan baru untuk memanfaatkan bantuan Belanda demi kepentingan pembangunan Indonesia. "Buat kita ini adalah peluang. Tantangannya adalah bagaimana menggunakan bantuan itu untuk membantu mencapai prioritas kita, yakni memperbaiki kepemerintahan, iklim investasi, demokrasi, dan keamanan," ujar penyandang Phd dari Uiversitas Nasional Australia itu.Sementara itu Martin Sanders, memaparkan tantangan dari perspektif lain. Dari sisi ekonomi dan kebudayaan, Belanda hanya salah satu saja dari negara-negara Eropa yang semakin menarik bagi Indonesia. Sebaliknya Indonesia juga hanya salah satu saja dari negara-negara Asia Tenggara yang semakin menarik bagi Belanda.Menurut Sanders, hal itu jelas terefleksi dari hubungan ekonomi Indonesia-Belanda. "Walaupun ekspor Indonesia ke Belanda meningkat, namun ekspor negara-negara Asia lainnya ke Belanda meningkat lebih cepat lagi," kata Sekjen Amstedam Indonesia House (Amindho itu.Ia menambahkan, andil Indonesia dari total impor Belanda dari negara-negara Asia secara substansial menurun. Di sisi lain, ekspor dan investasi Belanda ke Indonesia dalam beberapa tahun terakhir tidak menunjukkan peningkatan secara struktural. Ini tentu menjadi pekerjaan rumah."Walaupun susah untuk mengukurnya, namun saya punya perasaan kuat bahwa hubungan yang relatif mengalami kemunduran ini tidak hanya terbatas pada bidang ekonomi saja," demikian Sander.Dia menyampaikan bahwa kerjasama antarkedua pihak, termasuk antarmasyarakatnya, hanya bisa berbuah dan berkesinambungan jika ada pengertian timbal balik. Kerjasama di bidang pendidikan dapat menjadi instrumen kuat untuk memajukan pengertian timbal balik itu. Keterangan Foto: Suasana diskusi dalam salah satu Pokja (sumber foto: PPI Belanda). (es/es)


Berita Terkait