Inflasi Isu Islam dan Kejenuhan?

Kincir Ramadan 2

Inflasi Isu Islam dan Kejenuhan?

- detikNews
Minggu, 15 Okt 2006 18:55 WIB
Inflasi Isu Islam dan Kejenuhan?
Den Haag - Mengapa situasi Ramadan di Belanda tahun ini bisa demikian berbalik 180 derajat? Tren sementara ataukah akan terus berlanjut?Semua tentu masih perlu menunggu pembuktian. Namun ada faktor-faktor yang saat ini dapat menjawab pertanyaan itu: bahwa isu Islam nampaknya sudah kehilangan momentum dan kurang efektif lagi. Rakyat Belanda seperti sudah jenuh dan mengalami kelelahan psikologis, setelah 5 tahun (sejak 11/9/2001) menerima isu yang itu-itu juga. Selain itu, gencarnya isu tersebut ternyata tidak menambah keadaan menjadi lebih baik. Orang seperti dipaksa untuk menjadi paranoid, sulit untuk tidak tak percaya pada tetangga atau teman yang selama ini terjalin baik. Susah untuk tak menggeneralisir, bahwa tidak semua muslim kriminal dan teroris. Akibatnya ketenteraman hidup menjadi korban. Seberapa tahan jiwa yang sehat dikerangkeng keadaan seperti itu terus-menerus? Masyarakat akhirnya menemukan daya imunnya secara alamiah. Ini ditunjukkan dari survei terbaru Barometer Politik (13/10/2006) menjelang pemilu 22/11/2006 mendatang. Partai-partai yang getol mengeskploitasi isu keamanan dan Islam, terutama partai kanan hingga ultra kanan, ternyata tidak laku atau berkurang dukungan: VVD 15,9% dari semula 17,9% (2003), Lijst Pim Fortuin (LPF) 0,3% dari 5,7%. Dukungan untuk pendatang baru yang merupakan sempalan LPF juga kurang cerah: EenNL cuma 0,6%.Bahkan Gert Wilders dengan Partij van de Vrijheid (Partai Kebebasan), yang mencoba menjual ide-ide lebih keras dari Pim Fortuin, malah mengalami antiklimaks. Dukungan kepadanya cuma 0,8%. Padahal lima hari sebelumnya dia meneriakkan bahaya 'tsunami islamisasi' di Belanda, tapi ternyata efek yang timbul tidak sesuai dengan yang dia harapkan.Selain sudah jenuh, masyarakat juga ingin program yang jelas terutama menyangkut program ekonomi dan kaitannya dengan nasib dompet mereka 4 tahun ke depan. Konstituen berlatar belakang muslim juga mengambil sikap. Itu dibuktikan pada pemilu lokal (7/3/2006) lalu. Jumat terakhir sebelum pemilu (3/3/2006) ada mobilisasi melalui medium salat Jumat untuk memilih Partai Buruh, sebagai pengimbang partai-partai yang getol mencederai Islam.Hasilnya, ada pergeseran statistiek yang cukup signifikan. Partai Buruh melonjak tajam menjadi 23,4% dari 15,8%. CDA berkurang menjadi 16,9% dari 20,3% (2002), VVD menjadi 13,8% dari 15,3% dan Demokrat 66 menjadi 2,6% dari 3,7%. Esoknya media ramai membahas faktor suara muslim tersebut sebagai penentu perubahan bandul politik. Hasil itu sekaligus membawa pada kesadaran baru. Mark Rutte, ketua baru partai VVD, pada pidato pelantikannya buru-buru melakukan upaya pemolesan citra dengan mempresentasikan bahwa partainya untuk semua lapisan dan tidak mau polarisasi. CDA juga mulai menata diri dengan polesan sebagai pengayom dan menonjolkan program-program ekonomi. Kini menghadapi pemilu nasional, dukungan ke CDA berkisar 29,6% bersaing ketat dengan Partai Buruh 30,1%.Faktor Hirsi AliBerkah terbesar yang ikut mempengaruhi iklim ketenangan adalah meledaknya skandal kewarganegaraan Ayaan Hirsi Ali, bekas pengungsi Somalia yang menjadi anggota parlemen dari partai liberal VVD. Terungkap, dia menjadi warga negara Belanda secara tidak sah, karena memalsu identitas. Kini dia ditampung di AS, di lembaga tangki pemikiran milik kelompok neo-konservatif American Enterprise Institute, yang menjadi pemasok konsep ke Presiden Bush.Selama duduk di parlemen, Hirsi Ali menjadi ikon yang gencar menyerukan pembaruan dan desakralisasi Islam. Padahal dia sendiri sudah meninggalkan agama Islam pada 2002 dan mengaku sebagai ateis, tepatnya setelah ia membaca buku Manifesto Ateis karangan filsuf Belanda, Herman Philipse.Hirsi Ali menjadi orang politik pertama di Belanda yang secara terbuka menyerang dasar-dasar keyakinan Islam dan menghina Nabi Muhammad. Langkah Hirsi Ali ini lalu diikuti para pembentuk opini, antara lain sineas dan kolumnis Theo van Gogh, yang berteman baik dengannya. Dalam salah satu kolomnya, Van Gogh antara lain pernah menulis bahwa Allah itu adalah seekor babi. Nabi Muhammad pun dijadikan bahan ejekan. Belanda pun memasuki fase baru ke iklim yang gerah dan pengab. Derajatnya semakin meningkat ketika M. Bouyari kalap dan membunuh Van Gogh. Peristiwa pembunuhan itu menyentakkan semua orang. Sebagian bahkan menuding Hirsi Ali memperalatnya, sebab sebagai orang Belanda Van Gogh kurang menghayati makna simbol-simbol suci dalam agama Islam. Hingga menjelang musim panas tahun ini. Kebohongan Hirsi Ali kepada negara menyangkut kewarganegaraannya tiba-tiba meledak. Skandal ini bahkan berbuntut: Kabinet Belanda Balkenende II jatuh. Hirsi Ali terjerembab dari posisi pahlawan yang dielu-elukan menjadi pendusta yang kurang digubris orang. Keterangan Foto1. Cover: Masjid Ar-Rahmaan, 's-Hertogenbosch.2. Atas: Keluarga Belanda dalam acara buka puasa di KBRI Den Haag. (es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads