Pilot Bertemu Pria yang Membajak Pesawatnya 25 tahun Lalu
Minggu, 15 Okt 2006 07:13 WIB
Mumbai - Dendam tidak boleh dibawa mati. Bahkan seseorang yang pernah berbuat jahat kepada kita patut dijadikan sahabat. Inilah yang dilakukan seorang bekas pilot di India saat menemui seseorang yang membajak pesawat yang dikemudikannya di Seychelles 25 tahun lalu.Adalah Umesh Saxena, pilot yang pesawatnya dibajak oleh seorang berkewarganegaraan Afrika Selatan bernama Peter Duffy. Keduanya bertemu di Mumbai, sebelah barat India."Kami bertemu sebagai teman," ujar Saxena yang saat ini berusia 64 tahun saat ditemui AFP di kediamannya, Sabtu (14/10/2006."Saya merasa sedikit terkejut seperti anda dapat bayangkan. Ini semacam pertemuan sejarah," imbuhnya.Sebelumnya, sebauh tayangan televisi memperlihatkan Duffy dan Saxena duduk di sofa, saling melempar senyum, dan berjabat tangan satu sama lain.Saxena adalah pilot Air India yang dijadwalkan menaiki pesawat dengan nomor penerbangan 701 dari Zimbabwe menuju Mumbai, saat Duffy dan 43 orang lainnya menaiki pesawat yang berada di landasan di bandara Mahe, d Seychelles, 25 November 1981.Duffy adalah anggota tentara bayaran Afrika Selatan yang tengah berada di Seychelles untuk menggulingkan presiden Albert Rene.Meskipun saat peristiwa terjadi Duffy tidak terdeteksi, karena mereka berpura-pura sebagai anggota tim rugby. Namun saat di pesawat, seorang petugas menemukan sebuah senapan di dalam koper yang dibawanya. Tak pelak aksi baku tembak pun terjadi."Pria itu masuk ke dalam pesawat dan menyandera penumpang. Kamimemiliki 79 penumpang di dalam pesawat. Duffy memerintahkan saya untuk terbang ke Durban, kenang Saxena.Pesawat kemudian mendarat di Afrika Selatan dan ketika mendarat, aparat kepolisian langsung membawa Duffy. Saat itu Duffy mengatakan kepada Saxena bahwa suatu saat mereka harus saling bertemu."Yang saya pikir saat itu hanyalah jangan sampai bertemu dengannya lagi," tandas Saxena.Saxena kemudian mendapatkan pesan pertama kali bahwa Duffy ingin menemuinya pada tahun 1990-an. "Saya pikir saat itu hanyalah berita biasa, seperti jika anda mengatakan 'sampaijumpa' namun sebenarnya tidak bermaksud untuk bertemu kembali," ucapnya.Saat Saxena, anak dan menantunya, yang keduanya saat ini berprofesi sebagai pilot, mengunjungi Durban tahun 1994, Duffy kembali mengungkapkan keinginannya untuk menemuinya."Tapi baru 2 minggu lalu saat saya menyadari Duffy sangat serius untuk menemuiku. Seorang jurnalis yang juga teman saya mengatakan jika Duffy akanberada di India dan menginginkan saya menemuinya," ungkapnya."Saya mengatakan jika saya mau menemui dia, tapi dia harus berada di Mumbai. Ada beberapa hal ingin saya ketahui, termasuk apakah dia berencana meledakkan pesawat saya. Namun Duffy mengatakan kepadaku jika dia tidak memiliki rencana apapun," urai dia.Saxena juga mengatakan jika Duffi menyatakan "saya telah berjanji dan kamu tahu kamu tidak boleh melanggar janji. Itulah mengapa saya berada di sini," ujar Duffy sambil merangkul Saxena.Duffy juga menceritakan bahwa saat itu pemerintahan di Seychelles tidak diterima oleh rakyat. Sangat mungkin terjadi kudeta berdarah saat itu.
(fjr/fjr)











































