Puasa Paling Tenteram Sejak 11/9

Kincir Ramadan 1

Puasa Paling Tenteram Sejak 11/9

- detikNews
Sabtu, 14 Okt 2006 18:28 WIB
Puasa Paling Tenteram Sejak 11/9
Den Haag - Puasa di Belanda tahun ini dirasa paling tenteram sejak isu 11/9 dan terorisme. Selama 5 tahun minoritas muslim menjadi sansak politik, kini keadaan berbalik.Dua pekan sudah Ramadan berjalan, tapi atmosfir sosial politik di Belanda tetap jernih dan dirasa memberi efek ketenteraman. Ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yang bagi kebanyakan kaum muslim di Belanda dialami sebagai tahun-tahun penuh kesulitan. Sepanjang masa itu, hampir tiada hari berlalu tanpa pencederaan melalui mata dan pendengaran (media cetak dan elektronik).Stasiun televisi publik NOS (24/9/2006), malah menyajikan berita Ramadan dengan pendekatan positif. Sekitar 240 detik NOS menjelaskan hal-ikhwal tentang Ramadan dan apa saja yang dilakukan kaum muslim selama bulan itu. Lalu ditampilkan gambar kaum muslim duduk berdampingan semeja menikmati buka puasa bersama dengan ratusan umat lain, baik bule maupun berwarna.Padahal di Belanda saat ini sedang diwarnai suasana menjelang pemilu, 22/11/2006 bulan depan. Pemilu ini digelar karena Kabinet Balkenende II jatuh di tengah jalan, menyusul mosi tidak percaya yang disampaikan mitra koalisi memerintah, yakni partai Demokrat 66. Adatnya menjelang pemilu, terutama pasca 11/9, partai-partai berebut memakai isu Islam sebagai sansak politik untuk meraih keuntungan suara. Namun tahun ini secara mengejutkan suasana berbalik adem ayem. Suara-suara yang membangkitkan sentimen dan kebencian terhadap Islam ternyata kali ini kurang mendapat sambutan. Seperti dilakukan politisi ultra kanan Gert Wilders (8/10/2006). Pada hari ke-15 Ramadan, ketua Partij van de Vrijheid (Partai Kebebasan) itu dalam wawancara dengan Volkskrant melontarkan isu Belanda diambang 'tsunami islamisasi' dan ia mengingatkan bahwa 'teroris jalanan' tidak lepas dari ajaran Islam.Mirip kondisi sedang puasa yang mengendalikan ragawi ke titik nul, rakyat Belanda tidak melahap manuver Wilders tersebut. Sepi. Sebaliknya Wilders justru mendapat angin dari depan, dari kolega politisi lainnya. Jan Marijnissen, ketua Partai Sosialis (SP), menilai pernyataan Wilders itu hanya cari perhatian saja. "Tidak pada tempatnya memakai idiom bencana alam yang menewaskan ribuan orang untuk kepentingan politik. Itu sungguh menjijikkan," komentar Marijnissen. Tanggapan senada disampaikan Alexander Pechthold, ketua Demokrat 66. I. Akels (Pusat Orang Asing Belanda), menyebut pernyataan itu sebagai tidak patut. "Ia menyebarkan kebencian di kalangan masyarakat dengan harapan dapat memanen suara," demikian Akels.Barometer Politik terbaru (13/10/2006), hasil angket mingguan yang digelar programa NOVA bekerjasama dengan lembaga riset Interview-NSS, juga menunjukkan bahwa manuver Wilders itu kurang laku. Wilders hanya mendapat dukungan 0,8% suara (setara dengan 1 kursi pada pemilu nanti). Cuma terjadi pertambahan tidak signifikan 0,2% dari posisi sebelumnya yang 0,6% pada 6/10/2006, atau dua hari sebelum manuvernya tentang 'tsunami islamisasi' itu.Keterangan Foto: Suasana berbuka puasa bersama dengan berbagai kalangan di Masjid Sultan Ahmad (Delft). (es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads