Pimpinan DPR & MPR Kecam Dubes Denmark
Jumat, 13 Okt 2006 17:07 WIB
Jakarta - Penolakan Dubes Denmark di Indonesia Neils Erik Andersen untuk meminta maaf atas tindakan warganya yang melombakan karikatur Nabi Muhammad SAW mendapat kecaman keras dari pimpinan DPR dan MPR.Menurut Wakil Ketua MPR AM Fatwa, tindakan Dubes itu merupakan bentuk arogansi yang mewakili bangsa Denmark."Kita sangat menyayangkan itu arogan," kata Fatwa di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (13/10/2006).Menurut Fatwa, seharusnya mereka bisa menghargai hubungan antarnegara dengan menjunjung tinggi keyakinan masing-masing.Kecaman serupa disampaikan Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno. Pemerintah, kata dia, harusnya mengambil inisitiaf untuk memanggil Dubes Denmark dan mempertimbangkan pemutusan hubungan diplomatik. Karena tindakan warga Denmark yang tidak ditegur pemerintahnya, serta keengganan meminta maaf, merupakan bentuk pelecehan."Perlu dipertimbangkan proses pemutusan hubungan diplomatik. Karena Denmark menolak meminta maaf," kata Mbah Tardjo, sapaan akrab Soetardjo.Menurut politisi PDIP itu, Denmark tidak mengindahkan etika internasional yang berdasarkan pada saling menghargai dan menghormati perbedaan keyakinan agama."Kalau mereka mengatasnamakan HAM dalam membuat karikatur, mereka juga menginjak-injak HAM kaum muslimin yang sangat menghargai nabi," tegas Mbah Tardjo.Sedangkan Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar menilai pemerintah Denmark gagal dalam menjalin diplomatik dengan pemerintah RI. Ini terlihat dari ketidakmampuannya untuk menjalin hubungan baik selama ini, meskipun telah terjadi pemaafan publik saat kartun Nabi dimuat di koran Denmark, Jyllands-Posten, beberapa waktu lalu."Ini akan mengganggu hubungan diplomatik antara pemerintah RI dan Denmark. Ini menunjukkan mereka gagal dalam hubungan diplomatik," cetus Muhaimin.
(umi/sss)











































