Istri PM Jepang Curhat Soal Tidak Punya Anak
Jumat, 13 Okt 2006 10:59 WIB
Tokyo - Perdana Menteri (PM) Jepang yang baru Shinzo Abe dihadapkan pada masalah besar, yakni kecilnya angka kelahiran di negeri Sakura itu. PM Abe yang kerap mendengungkan nilai-nilai keluarga harus menerima kenyataan bahwa dia dan istrinya belum dikaruniai seorang anak pun.Publik Jepang tadinya hanya bisa menebak-nebak kenapa pemimpin baru mereka tidak mempunyai anak. Namun kini, istri Abe, Akie, dengan blak-blakan curhat soal itu. Kepada media lokal, Bungei Shunju, perempuan berusia 44 tahun itu bercerita soal pengobatan fertilitas yang pernah dijalaninya. Akie juga mengungkapkan bahwa suaminya telah mengusulkan untuk mengadopsi anak."Daripada orang-orang berspekulasi soal ini, saya pikir sebaiknya saya menjelaskan sendiri," kata Akie seperti dilansir harian Australia, Sydney Morning Herald, Jumat (13/10/2006).Pasangan Abe-Akie menikah pada tahun 1987. Saat itu, Akie yang berasal dari keluarga kaya produsen konveksi berumur 25 tahun sedangkan suaminya 32 tahun."Tentu saja, sebagai istri politikus, saya berada di bawah tekanan besar, termasuk dari konstituennya," tutur Akie yang pernah menjadi disc jockey (DJ).Dituturkan Akie, seiring dengan menanjaknya usianya, orang-orang sudah berhenti mendorongnya untuk terus berusaha memiliki keturunan. "Namun di waktu-waktu awal, saya telah melakukan pengobatan fertilitas," ujar Nyonya Abe yang modis itu.Diungkapkan Akie, suaminya pernah menyarankan untuk memungut anak namun Akie tidak setuju. "Saya tidak bisa menerimanya dan tidak yakin untuk membesarkan anak adopsi dengan baik, jadi itu tidak terjadi," kata Akie.Lantas sedihkah Akie dengan kenyataan ini? Dengan bijak, istri pemimpin Jepang itu mengatakan bahwa semua sudah digariskan Tuhan."Saya pikir ini semua takdir dan saya harus menerima kenyataan bahwa saya menikahi politikus, dan dia menjadi PM dan bahwa kami tidak dikaruniai anak," ujar wanita penggemar drama TV romantis Korea itu.Tingkat kelahiran di Jepang turun menjadi 1,25 pada tahun 2005, atau terendah sepanjang sejarah negeri itu. Masalah ini diperparah dengan tingginya rasio penduduk tua terhadap total populasi. Bahkan rasionya tertinggi di dunia.
(ita/asy)











































