Berpuasa di Tengah Non-Muslim

Ramadan di Inggris (1)

Berpuasa di Tengah Non-Muslim

- detikNews
Jumat, 13 Okt 2006 06:22 WIB
London - Saya sudah sepuluh tahun tinggal di London, Inggris. Bulan Ramadan telah saya lalui 10 kali. Wajar, bila saya kangen suasana Ramadan di Indonesia. Sekadar berbagi cerita, suasana Ramadan di London tentu sangat berbeda dengan di Indonesia. Berpuasa di Ramadan kali ini, mulai terasa panjang buat kami. Maklum awal puasa semakin mendekati musim panas yang berarti siangnya makin panjang. Memang belum panjang sekali. Di hari pertama, puasa sekitar 14 jam, tetapi di pertengahan dan akhir puasa nanti tinggal sekitar 12 jam. Kerinduan saya dengan suasana Ramadan di Indonesia, bukan sekadar membayangkan jenis makanan yang berlimpah untuk berbuka puasa (itu pasti). Tetapi, lebih pada kesyahduan beribadah.Beruntung, kami sekeluarga tinggal cukup dekat dengan sebuah masjid yang cukup besar di London Tenggara. Kami hanya jalan kaki sepuluh menit, maka akan bercampur baurlah kami dengan orang dari Ethiopia, Somalia, Bosnia, Pakistan, India, Bangladesh, asli Inggris sendiri, maupun dari berbagai negara lainnya.Tetapi tetap saja suasananya berbeda dengan Indonesia. Setidaknya kebiasaan kami berbeda. Tidak ada tadarus bersama setelah selesai salat tarawih, karena masing-masing melakukannya sendiri di rumah. Kumandang lagu pujian menjelang ta'jil (berbuka bersama di masjid) juga tidak ada. Sekadar mendengar orang bersahutan mengaji saja kami tak dapat, karena kami satu-satunya muslim di perkampungan tempat kami tinggal. Sungguh itu membuat kami kangen dengan Indonesia. Bahkan kadang kami kangen sekadar mendengar suara sandal yang diseret kaki perlahan menuju masjid di keheningan subuh.Tentunya, tidak berarti semuanya berisi kerinduan dengan Indonesia. Ada hikmah lain berpuasa di London. Kami merasakan nikmat kepasrahan yang berbeda dibanding melakukan puasa di Indonesia.Seperti diketahui, umat Islam di Inggris merupakan kaum minoritas. Jelas, tantangan untuk berpuasa di Ramadan lebih besar dibanding di Indonesia yang kaum muslimnya mayoritas. Kami tetap berpuasa, meski di mana-mana toko makanan dan restoran tetap buka seperti biasa. Sebagian besar orang juga makan dan minum seperti biasa. Dan kami harus mengatakan bahwa kami sama sekali tidak tergoda. Bahkan, tampaknya hal ini malah menegaskan keimanan kami. Tidak ada rasa permusuhan. Tidak timbul dalam hati kami bahwa mereka harus menghormati kami yang sedang berpuasa. Semata-mata perasaan yang ada hanyalah bahwa kepercayaan kami memang berbeda. Tidak ada masalah sama sekali. Kami malah merasa khusuk berpuasa.Hidup sebagai minoritas di Inggris, jangan harap Anda mendapatkan privilese tertentu, hanya karena Anda berpuasa. Tetapi, bukan berarti pemerintah Inggris tidak memperhatikan bulan Ramadan. Contoh kecil saja. Di sekolah, anak saya yang masih SD tersedia ruangan kecil bagi murid-muridnya yang ingin menjalankan salat zhuhur dan asar. Setiap menjelang Ramadan, ada semacam pelajaran khusus yang menjelaskan bahwa umat Islam sebentar lagi akan menjalankan ibadah puasa dan mengapa mereka melakukannya. Bahkan ada semacam perayaan Idul Fitri yang biasanya diadakan Jumat pertama setelah Idul Fitri. Juga di hari H Idul Fitri, murid-murid yang beragama Islam diperbolehkan libur, karena di kawasan London Tenggara, Idul Fitri telah menjadi hari libur resmi untuk mereka yang beragama Islam.Walau tentu saja ada warga Inggris yang tidak suka dengan kalangan Islam, terutama setelah berbagai 'kasus terorisme', tapi pada dasarnya Inggris merupakan negara yang terbuka. Secara historis, persentuhan Inggris dengan segala sesuatu yang bersifat asing telah dimulai jauh hari dulu. Dan warga Inggris cukup bisa mengerti akan adanya berbagai perbedaan adat istiadat dan agama.Penulis ada koresponden detikcom di London (lza/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads