Menlu Minta Denmark Tak Sepelekan Protes Kartun Nabi

Menlu Minta Denmark Tak Sepelekan Protes Kartun Nabi

- detikNews
Rabu, 11 Okt 2006 15:01 WIB
Jakarta - Pemerintah RI meminta Denmark tidak mengesampingkan reaksi kelompok Islam di Indonesia atas terulangnya kasus pelecehan terhadap Nabi Muhammad SAW. Kejadian itu seolah memprovokasi umat Islam. Demi memulihkan hubungan, sebaliknya mereka menanggapinya secara serius dengan menjalin dialog dengan para tokoh kelompok Islam di Tanah Air. "Saya sampaikan agar reaksi keras dan keprihatinan itu tidak dikesampingkan. Karena tidak kurang NU dan Muhammadiyah yang selama ini sangat aktif memajukan dialog antaragama dan kebudayaan, justru memberikan reaksinya," kata Menlu Hassan Wirajuda, Rabu (11/10/2006). Hal itu disampaikannya pada wartawan usai mengikuti peresmian pembukaan Pameran Produksi Ekspor 2006 di PRJ, Jakarta Pusat. Imbauan Pemerintah RI di atas disampaikannya dalam pembicaraan melalui telepon dengan Menlu Denmark beberapa saat sebelumnya. Dalam pembicaraan tersebut dirinya menyampaikan kekecewaan dan keprihatinan Pemerintah RI dan khususnya kalangan Islam di Tanah Air atas terulangnya lagi tindak pelecehan terhadap Nabi Muhammad SAW. Padahal seharusnya Denmark bisa mengambil pelajaran dari kasus penerbitan kartun Nabi yang terjadi tahun lalu. Kasus tersebut telah memancing munculnya reaksi keras dari berbagai penjuru dunia. Dua kejadian ini tidak saja melukai perasaan umat Islam dunia, tapi lebih jauh lagi tidak mendukung upaya-upaya dialog antarkebudayaan dan umat beragama yang dilaksanakan berbagai negara termasuk Indonesia. Atas imbauan di atas, Pemerintah Denmark menyambut baik dan akan berusaha memenuhinya. Meski tidak menyampaikan permintaan maaf secara ekplisit, tapi mereka menyatakan penyesalan, kecaman dan menegaskan sikap resmi Kopenhagen yang tidak mendukung tindakan semacam demikian. Dalam percakapan itu, Menlu Denmark dengan panjang lebar menjelaskan sesungguhnya kejadiannya berlangsung pada perkemahan anak-anak. Acara itu sebetulnya tertutup, tapi kemudian ada rekaman yang dibocorkan ke media. Artinya dengan kata lain sejak semula tidak dimaksudkan sebagai sesuatu yang serius dan tidak mencerminkan sikap Denmark terhadap Islam. "Tapi baik dimaksudkan maupun tidak dimaksudkan begitu, pada kenyataannya indikasi kejadian dari tahun. Kemudian cemarah Paus Bennedict yang menimbulkan reaksi dalam berbagai bentuknya. Lalu opera di Berlin yang untungnya dihentikan pemerintah Jerman. Terakhir ini terulang di Denmark. Rangkaian ini tidak membantu upaya yang dilakukan negara lain dalam mendorong dialog dan kerjasama antar umat beragama," beber Menlu. (lh/nrl)


Berita Terkait