Daging Gelonggongan Bercap Dinkes Beredar di Yogya

Daging Gelonggongan Bercap Dinkes Beredar di Yogya

- detikNews
Selasa, 10 Okt 2006 17:10 WIB
Yogyakarta - Selama bulan puasa ini, banyak beredar daging gelonggongan (daging yang berasal dari sapi yang sebelum disembelih dimasuki air sebanyak-banyaknya sehingga beratnya naik) di sejumlah pasar tradisional di Kota Yogyakarta. Tapi lucunya daging gelongongan yang sebagian besar berasal dari Kabupaten Boyolali itu bercap resmi dinas kesehatan setempat."Jumlahnya memang banyak, bisa mencapai lebih dari 100 kg setiap hari yang beredar di pasar Kota Yogyakarta, kita terus memantau," kata Mahfud Aswan, Kepala Kantor Pertanian dan Kehewanan Kota Yogyakarta, di kantornya, Jl Batikan, Selasa (10/10/2006). Dia mengatakan di beberapa pasar tradisional di Kota Yogyakarta seperti Pasar Beringharjo, Kranggan dan Demangan, ditengarai kemungkinan jadi tempat beredarnya daging gelonggongan maupun daging ayam bangkai. Namun saat beberapa petugas melakukan operasi tidak diketemukan daging gelonggonggan, daging sapi yang dicampur dengan daging babi atau celeng maupun daging ayam bangkai. "Mereka sering kucing-kucingan dengan kami. Kalau kita sweeping, daging gelonggongan menghilang tapi kalau tidak ada pengawasan banyak yang dijual. Tapi setiap hari pasti masih ada daging seperti itu," katanya.Dia mengatakan para pelaku yang biasa menjual daging sapi gelonggongan di sejumlah pasar tahun ini sudah relatif menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tiga tahun lalu daging gelonggongan yang beredar sempat mencapai 300 kg setiap hari. Sekarang ini diperkirakan peredaran selama bulan puasa sekitar 100 kg setiap hari masuk ke Kota Yogyakarta. "Semenjak kita gencar operasi jumlahnya menurun, dan kalau masuk dari luar kota biasanya malam hingga pagi hari sebelum pasar buka," katanya.Dia mengatakan daging sapi gelonggongan rata-rata berasal dari Kabupaten Boyolali. Uniknya, daging sapi gelonggongan yang diedarkan tersebut memiliki surat kesehatan dan sudah distempel dinas setempat. "Hanya saja itu daging itu apakah resmi dari RPH di Boyolali atau RPH-RPH liar yang ada di sana," katanya.Selama ini kata dia, pihaknya berusaha melakukan pembinaan kepada pedagang daging sapi di pasar-pasar. Namun pembinaan pada pedagang yang dilakukan saat ini juga belum bisa maksimal karena masih ada yang menjual daging tersebut. Pihaknya akan memproses secara hukum bila ada yang tetap nekat menjual daging gelonggongan."Mereka kadang ingin mendapat keuntungan dengan mengambil kesempatan seperti itu. Kalau daging sapi murni dijual dengan harga Rp 40 ribu - 45 ribu/kg. Daging sapi gelonggongan harga kulakan bisa dibawahharga standar," katanya. Selain memberi pengarahan kepada pedagang kata dia, pihaknya juga memberikan informasi pada konsumen saat memilih daging yang berkualitas baik. Untuk membedakan antara daging sapi gelonggongan dan murni sebenarnya relatif mudah. Ciri-ciri daging sapi gelonggongan bila dijual di los pasar tidak digantung tapi diletakkan dimeja. Bila digantung air terus menetes, dipegang tidak kenyal dan lebih basah. "Warnanya juga tidak cerah, tidak merah sekali tapi merah muda dan tampak layu. Jika ada tanda-tanda seperti itu hendaknya dihindari dan tidak usah beli. Setelah sampai di rumah berat daging akan berkurang karena air dalam daging terkuras dan menetes," katanya. (bgs/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads