TNI Hadapi Lima Tantangan Besar
Senin, 09 Okt 2006 17:35 WIB
Den Haag - Ke depan TNI menghadapi lima tantangan besar, antara lain Revolution in Military Affairs (RMA) dan grand strategy baru bernama Effects Based Operation (EBO).Hal itu dikemukakan Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) KBRI Den Haag Djauhari Oratmangun dalam acara peringatan HUT TNI ke-61 dan berbuka puasa bersama di aula KBRI, (6/10/2006).TNI akan menghadapi revolusi masalah militer (RMA), yang merubah secara drastis wajah peperangan di masa depan. Dalam RMA, peperangan nantinya akan ditentukan oleh peralatan tempur canggih, dikaitkan dengan teknologi dan organisisasi moderen, terutama teknologi informasi, komunikasi dan ruang angkasa."Tantangan kedua yang harus dihadapi adalah munculnya konsep grand strategy baru bernama operasi berbasis dampak (EBO), yang bersifat dinamis, fleksibel dan asimetris," kata Djauhari di depan mahasiswa dan ormas-ormas setempat. Selain itu masih ada tiga tantangan berikutnya, yakni embrio paradigma dikotomis baru, yang membedakan antara state security (keamanan negara) dan human security (keamanan individu). Pola-pola operasi kontra terorisme juga akan mengemuka dalam spektrum operasi yang akan diemban di masa-masa mendatang.Tantangan yang tak kalah bobotnya adalah mengemukanya pola-pola Low Intensity Conflict/LIC (Konflik Intensitas Rendah), yang seringkali justru lebih mematikan daripada perang konvensional. "Contohnya situasi perang berlarut-larut di Irak dan Afghanistan pasca Operation Iraqi Freedom dan Operation Enduring Freedom," tandas diplomat karir itu. Djauhari berharap, TNI bisa didukung rakyat agar berhasil mereformasi dirinya sendiri secara doktrin, organisasi dan kemampuan tempurnya untuk merespon tantangan-tantangan tersebut. Sampai saat ini, kata Djauhari, TNI telah cukup berhasil memperbaiki diri keluar dari citra masa lalu. "TNI juga berhasil mengawal dan mengamankan fase kritis pada masa transisi nasional. Integritas teritorial nasional hingga kini juga masih terus terjaga dengan baik, walaupun ada keterbatasan bujet dan alutsista," ujar Djauhari.Luas RawanSementara itu Atase Pertahanan Kol (Laut) A. Soebandi mengatakan, TNI sebagai bagian dari upaya menjaga integritas wilayah yurisdiksi laut Nusantara kini melengkapi diri dengan 4 kapal korvet yang dibeli dari Belanda. Dua yang sudah diresmikan diberi nama KRI Diponegroro dan KRI Hasanuddin."KRI Diponegroro akan berlayar ke Indonesia pada Juli 2007 dan KRI Hasanuddin pada November 2007. Dua kapal korvet lainnya baru akan selesai 2009," kata Subandi.Menurut Subandi, dengan wilayah meliputi lebih 17.000 pulau dan wilayah yurisdiksi laut yang sangat luas, Indonesia memerlukan suatu kekuatan pertahanan nasional yang kuat untuk mencegah dan mengatasi timbulnya ancaman, yang dapat memecah belah bangsa.Di depan masyarakat, Subandi juga mengungkapkan bahwa hubungan TNI dengan angkatan bersenjata Belanda saat ini sangat baik. "Dalam kunjungan Menhan ke Belanda telah dibicarakan dukungan terhadap pasukan TNI ke misi UNIFIL dan bantuan pembangunan kapasitas untuk TNI," demikian Subandi.
(es/es)











































