Kubah Baru Merapi Berpotensi Runtuh, Awan Panas Mengancam
Senin, 09 Okt 2006 17:31 WIB
Yogyakarta - Aktivitas Gunung Merapi belum berhenti. Pertumbuhan kubah lava baru di puncak sampai kini terus terjadi. Namun kubah lava tersebut berpotensi runtuh sehingga dapat memunculkan awan panas atau wedhus gembel yang besar.Hal itu diungkapkan Mr Kato Keiichi, ahli gunung api dari Japan International Coorperation Agency (JICA), saat memberi laporan hasil investigasi Gunung Merapi di Sleman dan Gunung Kelir di perbatasan Kulonprogo dan Purworejo kepada Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bertempat di Gedung Wilis, Kepatihan, Senin (9/10/2006)."Luncuran awan panas yang besar masih mungkin terjadi bila kubah lava baru itu runtuh. Itu yang harus kita waspadai," katanya.Namun dia belum berani memprediksi arah luncuran awan panas. Semua masih dalam penyelidikan. Hanya saja pascaerupsi Juni lalu sebagian besar arah luncuran mengarah ke selatan ke Sleman atau ke hulu Kali Gendol yang sudah penuh material vulkanik baru."Material yang ada di Sungai Gendol itu juga mudah sekali hanyut bila turun hujan. Itu perlu untuk diwaspadai saat musim penghujan nanti, karena material yang ada di sungai bakal mengganggu masyarakat yang ada di jalur aliran sungai," katanya.Dia mengatakan sejak tahun 1985 JICA/JBIC (Japan Biological Informatics Consortium) telah menyelesaikan 184 Dam (ISDM Dam) baik di sepanjang Sungai Opak, Kali Gendol, dan Kali Boyong yang saat ini telah dipenuhi oleh timbunan material Gunung Merapi bahkan telah terkubur material. Untuk menampung luberan material tersebut, saat ini pihak JICA dan JBIC sedang menyelesaikan pembangunan 6 Dam lagi di 3 titik di Kali Gendol dan 3 titik lagi di Kali Opak untuk menghambat aliran material dari lereng Merapi.Dia menyarankan Pemprov DIY untuk melakukan survei topografi yang lebih detail terhadap daerah hulu dari ISDM Dam, menentukan hitungan kasar kemampuan aliran lahar, menentukan tinggi deposit lahar yang diizinkan di dasar sungai serta membuat standar peringatan dini kepada masyarakat di sekitar aliran Sungai Opak. Paling tidak, kata dia, sebagai upaya penanggulangan awal dan sebagai standar peringatan. Karena secara umum, di wilayah lereng gunung berapi, erosi permukaan sangat mudah terjadi oleh curah hujan meskipun kecil volumenya. "Bila turun hujan segera disampaikan peringatan kepada masyarakat di wilayah hilir maupun para pekerja di aliran sungai. Hendaknya segera dipasang sensor kawat pada ISDM Dam untuk mengantisipasi terjadinya lahar pada malam hari," katanya.
(bgs/nrl)











































