Ada Indikasi Daging Sapi Dicampur dengan Babi di Solo
Senin, 09 Okt 2006 10:51 WIB
Solo - Pemkot Surakarta menggelar operasi yustisia daging dengan mengadakan pemeriksaan mendadak ke pasar-pasar. Tim menemukan ayam yang telah mati sebelum disembelih serta daging babi yang diduga akan dicampurkan dengan daging sapi. Operasi itu digelar di Pasar Gede, Pasar Unggas Semanggi dan Pasar Legi, Senin (9/10/2006) dari pukul 06.30 WIB hingga selesai. Sedangkan tim terdiri dari Dinas Peternakan, Dinas Perindag dan Satpol PP. Di salah satu kios penjual daging ayam di Pasar Gede, tim menemukan delapan ekor ayam yang dipastikan telah mati sebelum disembelih. Ny Larni, pemilik kios, mengaku semua ayam yang dijual dalam kondisi sehat dan disembelih dalam kondisi hidup oleh keluarganya. Namun tim Pemkot bersiteguh membawa ayam tersebut untuk dimusnahkan. "Ciri-ciri fisiknya jelas menunjukkan itu ayam tirin (mati kemarin -red). Jika disembelih dalam kondisi hidup pasti urat leher yang terpotong tertarik ke atas dan ke bawah. Ciri lain ayam tirin adalah kulit dan dagingnya menyusut atau mengerut serta dagingnya mudah lepas dari tulang," papar Tri Ananto, ketua tim operasi. Tri menambahkan ayam-ayam tersebut akan dimusnahkan dengan cara dibakar. Pemilik kios akan dipanggil ke Kantor Dinas Pertanian Pemkot untuk diberi peringatan keras. "Sekali lagi kamu temukan dia melakukan pelanggaran serupa maka akan kami pidanakan karena itu jelas tindak penipuan," lanjutnya. Di Pasar Unggas Semanggi, tim mendapati para penjual jasa peyembelihan unggas yang kurang paham cara penyembelihan yang benar. Sebagian besar hanya memotong urat vena jugularis untuk mengeluarkan darah, padahal seharusnya dalam penyembelihan hewan ada tiga urat yang terpotong sekaligus. Di Pasar Legi, tim menemukan daging dan paru babi yang dalam dua bungkus plastik dengan berat sekitar 10 kg. Daging tersebut diletakkan di bawah bangku penjual bumbu dan tidak ada yang mengaku memilikinya. Petugas dari Pemkot yakin daging babi itu akan dicampurkan dengan daging sapi. "Daging babi itu tadi diletakkan begitu saja karena pembawanya melihat adanya tim sidak. Biasanya dari kios daging babi ke kios daging sapi daging itu diantarkan dari tangan ke tangan. Memang biasanya dilakukan pada pagi hari seperti saat ini. Kami sudah hapal modusnya," papar Tri. Menurutnya, tidak tertutup kemungkinan praktek pencampuran daging sapi dengan daging babi masih terjadi di pasar tersebut. Motifnya mencari laba lebih besar karena saat ini harga daging sapi mencapai Rp 45 ribu/kg sedangkan daging babi Rp 28 ribu/kg. "Kami akan mengetatkan pantauan. Yang tertangkap akan kami laporkan sebagai pelaku kriminal penipuan," tegasnya.
(mbr/nrl)











































