Order Susun Parsel, Bisnis Sampingan Pedagang Parsel
Minggu, 08 Okt 2006 01:27 WIB
Jakarta - Arief (49) tampak sibuk di bawah tangga Stasiun Cikini Jakarta. Kedua alis matanya hampir berpaut, menunjukkan keseriusannya menyusun parsel lebaran. Dengan tangkas, tangannya mematut-matut isian parsel.Di sekeliling Arief, berjajar tak kurang dari 50 parsel makanan yang dihias dengan cantik. Rata-rata parsel itu dijual dengan harga Rp 200-700 ribu. Coklat, permen, dan biskuit disusun apik dalam keranjang bersemat pita. Itu semua adalah hasil karya Arif sendiri."Sehari ya bisa bikin maksimal 8 parcel," ujar Arif kepada detikcom, Sabtu (7/10/2006).Pria yang rambutnya mulai memutih ini mengaku masih baru terlibat dalam bisnis parsel. Maklum dia baru 2 tahun berkecimpung di dunia parcel.Hari ini ramai pengunjung? "Iya, yang lihat-lihat hari ini lebih banyak dari biasanya. Tapi kebanyakan cuma lihat-lihat saja, tidak beli. Selama puasa ini bisa dihitung dengan jari yang sudah terjual," ujar Arief.Meski demikian, dia mengaku sudah mendapat order menyusun parsel dari beberapa orang. "Jadi barang isiannya pada bawa sendiri, saya yang nyusun dan menghias," imbuh dia.Keringat menetes dari kening Arief, buru-buru dia menghapus dengan tangan kirinya yang masih memegang cutter. Arief berharap parsel buatannya segera habis menjelang lebaran nanti. Seperti yang lain, Arief juga ingin berkantong tebal saat lebaran agar bisa berbagi dengan sanak keluarganya.Pita-pita di atas parsel melambai-lambai tertiup angin, seakan memanggil para pembeli. Dan Arief pun tetap menekuni pekerjaanya di bawah tangga stasiun sambil menunggu waktu buka puasa menjelang.
(ndr/ndr)











































