Kisah Pengojek Sepeda yang Tetap Niat Berpuasa
Sabtu, 07 Okt 2006 23:36 WIB
Jakarta - Jika memang sudah niat, puasa ramadhan akan dijalani dengan ikhlas. Tak peduli teriknya panas matahari, semuanya akan terasa ringan. Begitu pula yang dialami Sukirno (42) yang tetap berpuasa kendati dirinya seharian bekerja mengayuh sepeda melintasi jalan-jalan di Tanjung Priok, Jakarta Utara."Sudah 10 tahun saya jadi tukang ojeg sepeda. Alhamdulillah selama ramadhan saya meniatkan diri untuk puasa," kata Sukirno, saat ditemui detikcom di Jl Yos Sudarso, Jakarta Utara, Jumat (6/10/2006).Pria asal Pemalang ini mengaku kendati berpuasa, aktivitas tetap dijalani seperti biasa. Diakuinya, hanya sedikit jadwal yang diubahnya dari hari-hari normal."Semuanya diniatkan karena Allah. Dari jam 6 sampai jam 12 siang saya cari penumpang, terus istirahat 2 jam di masjid buat tidur," ujar ayah berputra 4 ini.Selepas beristirahat memulihkan tenaga, Sukirno kembali mengayuh sepedanya, hingga pukul 17.00 WIB. "Habis itu ke masjid, sekalian nunggu buka di sana, lumayan dapat makanan gratis biar ngirit," urainya sambil tersenyum.Dia dan teman-temannya biasa berbuka bersama di Masjid Nur Fadilah yang terletak di Jl Cikikang. Sementara untu sahur dia biasa makan di warung di sekitar kontrakannya di daerah Warakas."Kalau sesudah makan sahur saya juga minum suplemen, biar tambah kuat," tuturnya.Sebelum menjadi pengojek sepeda, Sukirno bekerja sebagi kuli bangunan, tetapi kemudian mertuanya yang sudah menerjuni profesi ini pensiun dan mewariskan sepedanya kepada dia."Tahun 2001 sepedanya rusak, terus saya kredit sendiri cicilannya 50 ribu rupiah sebulan. Saya nyicil sampai 6 bulan," urainya.Sukirno pun menuturkan, biasanya para penumpangnya adalah para karyawan pabrik yang banyak terdapat di daerah Tanjung Priok. Sehari-hari dia biasa mendapat penumpang rata-rata 20 orang."Tarifnya dua ribu sampai tiga rupiah, lumayan buat makan anak istri" ucapnya.Lebaran tahun ini pun dia berencana mudik lebaran. H-7 dia pilih sebagai tanggal kepulangannya ke kampung. "Saya biasa naik bus. Uang yang saya irit ini nanti buat beli oleh-oleh," tandasnya.
(ndr/ndr)











































