Penjual Parsel di Cikini Laris Manis
Sabtu, 07 Okt 2006 14:41 WIB
Jakarta - Sri, perempuan paruh baya pemilik sebuah kios parsel di Stasiun Cikini Jakarta tampak sibuk. Sejak pagi hingga pukul 14.00 WIB, belasan orang mampir ke kiosnya. Sri dan anak buahnya hampir tak bernafas. "Hari ini ramai sekali," ujar Sri kepada detikcom sambil melayani tamunya, Sabtu (7/10/2006).Menurut salah seorang karyawati di kios Ibu Sri itu, pesanan parsel sudah banyak diterima. Kebanyakan dari perusahaan-perusahaan menengah ke atas."Tahun lalu, 10 hari puasa masih sepi kayak kuburan. Tapi kalau tahun ini, kita sedikit repot mau bikin parsel karena stok barang isian agak terhambat," ujar perempuan yang enggan disebut namanya itu.Menurut dia, orang-orang mulai ramai berdatangan pada hari ini. Maklum, sekarang hari Sabtu. Saat orang-orang kantoran tidak disibukkan dengan pekerjaannya.Tak kurang dari 100 parsel memenuhi kios Ibu Sri. Ada yang berisi makanan, dan ada pula yang berisi barang pecah belah. "Ini semua pesanan, yang kita stok paling hanya beberapa buah," ujar karyawati itu.Menurut dia, pengerjaan parsel sangat mendadak akibat antaran barang isian parsel yang terhambat. Karena itu, semua karyawan harus bekerja keras, sehingga tak jarang meninggalkan kios pada pukul 00.00 WIB."Katanya parsel dilarang, tapi tetap banyak yang pesan. Tapi namanya juga tradisi. Kalau dapat parsel kan senang. Yang jual juga senang. Ini kan musiman," imbuh perempuan berambut sebahu itu.Ditambahkan dia, 2 tahun terakhir ini bisnis parsel tidak seramai tahun sebelumnya. Bila beberapa tahun lalu, pesanan parsel sudah diterima beberapa hari menjelang puasa, kini pesanan baru datang saat puasa tiba."Kalau parsel distop, semua tidak boleh ngasih dan terima, penjual parsel ya pada demo," tandas dia sambil tetap sibuk membungkus keranjang parsel dengan plastik kaca.
(jon/jon)











































