Pemulung Mangggarai, Kebersamaan Dalam Kemiskinan
Sabtu, 07 Okt 2006 08:39 WIB
Jakarta - Berbaju biru lusuh, kumal, celana medan yang ditekuk selutut, Edi (32), siang itu sedang memasukkan hasil memulungnya ke dalam karung plastik, di dekat pos palang pintu kereta api di Jl Sukabumi, depan kampung Menteng Tenggulun, Pasar Rumput, Jakarta.Belum ada enam bulan dia memulung setelah sebelumnya mengikuti orang lain untuk berjualan pecel lele. Hasil memulungnya bermacam-macam benda plastik, ada gelas minuman yang per kilonya Rp 6200,00, ada botol plastik minuman yang per kilonya dihargai Rp 2200, dan ada 'mainan' istilah untuk kemasan plastik seperti shampoo, hand body lotion, dan lain-lain yang dihargai Rp 12.000 per kilo. Hasilnya dijual ke pengepul di Manggarai.Edi tinggal di teras sebuah rumah peristirahatan kamtib di pinggiran rel kereta berukuran 5x4 m yang dibangun tahun 2005 lalu oleh Pemda DKI Jakarta. Ya, disebut rumah peristirahatan kamtib karena sewaktu-waktu kamtib yang melaksanakan penertiban di daerah tersebut bisa beristirahat di rumah itu. Sebelum di bangun rumah itu, banyak gubug-gubug liar di sepanjang pinggiran rel kereta api tempat para pemulung bersinggah.Edi dipercaya oleh Camat Menteng untuk mengurus rumah tersebut, tanpa bayaran, namun dia beserta teman-teman pemulungnya boleh beristirahat di dalam rumah pada siang harinya. Malamnya, Edi harus tidur di emperan rumah yang mempunyai bentuk letter L berukuran 1/2 m x 5 m."Kalo malem kagak ada yang boleh masuk rumah, Mbak," kata pria asli betawi itu.Selain itu, biaya air dan listrik di rumah tersebut dibayar oleh Pemda DKI. Penghasilan Edi sendiri dari memulung tidak tentu, dari Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu per minggunya. "Hanya cukup untuk makan dan beli susu anak," kata bapak dari bayi berumur 3 bulan ini.Susu formula yang berukuran 150 g seharga Rp 8000 per bungkusnya terlihat tergeletak di belakang pintu masuk di atas tumpukan kardus-kardus. "Biasanya beli dua, jadi enem belas rebu," katanya dengan logat betawi yang kental, jadi belum ada yang bisa disisihkan untuk ditabung.Rupanya Edi termasuk manusia ulet, selalu ada saja yang dikerjakannya. Selain memulung, dia juga dipercaya untuk menjaga tambal ban milik yang ada diseberang rel kereta api, letaknya pun persis di depan rumah itu.Selain itu, istri Edi, Wati (22) yang baru dinikahinya setahun lalu juga berjualan mi goreng dan rebus yang dihargai Rp 3000 per porsinya. Minuman seperti kopi tubruk, teh anget dibandrolnya seharga Rp 1000 per gelasnya. Pangsanya pasarnya, rekannya sesama pemulung. Perlengkapan warungnya ditaruh di teras samping rumah tersebut.Bahkan untuk modal dan keperluan lainnya Edi dan istrinya meminjam pada rente, antara Rp 100 ribu hingga Rp 400 ribu, cicilannya Rp 4 ribu hingga Rp 16 ribu per harinya.Ketika detikcom berkunjung ke rumah tersebut, tiba-tiba datang rente yang menagih utangnya "Wati, nanti ya..," ujar renter itu.Tidak hanya Edi, di rumah peristirahatan kamtib yang hanya memiliki 1 kamar berukuran 2x4 m dan kamar mandi berukuran 1x1 m di luar rumah, rumah tersebut juga tempat persinggahan bagi sekitar 20 pemulung lainnya.Mamung (31) salah satunya, pria asal Menteng Tenggulun, yang menjadi pemulung selama 10 tahun. Sebelumnya Mamung sempat menjadi penjaga toko barang antik di Bali selama empat tahun, karena tidak bisa bahasa Inggris, Mamung keluar. Pendidikannya yang hanya sampai SMP membuatnya susah mencari kerja."Kalo hari gini masih kemakan gengsi, ya bisa kagak makan Mbak" imbuhnya.Mamung tinggal bersama istrinya di kolong jembatan di depan Pasar Rumput yang menuju jalan Sukabumi. Menurut Mamung, ada sekitar 30 orang dari 9 keluarga yang tinggal di kolong jembatan yang tersekat dari lapak-lapak triplek.Siang itu Mamung makan dengan lauk seadanya, nasi, semangkuk sayur, dan kerupuk. Sambil bertelanjang dada Mamung makan dengan lahapnya. Memang, semua pemulung di daerah itu tidak berpuasa, tidak kuat, alasannya. Anak Mamung baru satu, berumur satu tahun, dan dititipkan di rumah orangtuanya di Bojonggede"Kasihan anak saya, kalo dibawa kesini, dia sudah suka lari-lari, ntar dekat rel kereta bisa celaka," kata Mamung yang berpenghasilan antara Rp 80 ribu hingga Rp 120 ribu per minggunya.Lain lagi dengan Jubaedah (46), yang menjadi pemulung karena tidak ingin merepotkan anak-anaknya dan ingin mencari kebebasan. Sedang dalam proses bercerai dari suami keduanya yang suka main perempuan, wanita berambut cepak itu mengaku belum ada satu bulan dia menjadi pemulung. Dia ingin mandiri, walaupun Jubaedah sudah punya rumah di kampungnya, Cigombong, Sukabumi."Malu sama mantu, kalau ikut anak," katanya.Pula, ketiga anaknya sudah menjadi 'orang'. Dua putrinya sudah menikah, menantunya ada yang berprofesi sebagai arsitek, satunya lagi petani pemborong di Sukabumi. Putra terakhirnya, bekerja sebagai karyawan di salah satu pabrik minuman beroksigen terkenal. Jubaedah mengaku tidak memberitahu anak-anaknya tentang profesinya sekarang."Kalau tahu bisa dimarahi sama anak," katanya.Sejurus kemudian Jubaedah melangkah ke sela-sela antara rel kereta api, memungut baju kaus ungu lengan panjangnya, jins hitam, dan sepatu selop putih bermerk 'Yongki Komaladi 'yang sudah hilang solnya yang sempat dijemur dibawah sinar matahari.Jubaedah memang sosok wanita mandiri, tidak bisa diam, dan selalu ingin bekerja selama masih mampu. "Yang penting halal," katanya.Untuk MCK, biasanya mereka menumpang di kamar mandi PT KA, cukup membayar Rp 1.000 rupiah, atau mencuci di bawah kolong jembatan yang pipa PDAMnya bocor.Ada Edi, Mamung, dan Jubaedah, dan belasan pemulung lainnya yang hidup dalam keterbatasan, namun kentara sekali rasa kebersamaan dan kekeluargaan di antara mereka sangat kuat. Mereka juga masih bisa tertawa dalam keterbatasan.
(gst/fjr)











































