Suwindarto Bunuh Kedua Orangtuanya dengan Golok
Jumat, 06 Okt 2006 19:12 WIB
Tuban - Diduga depresi setelah dipecat perusahaan tempatnya bekerja, Suwindarto (35) warga Dusun Klangon, Desa Wotsogo, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban nekat menghabisi orangtua dan bibinya dengan cara menggorok mereka dengan golok. Sadis!Perbuatan keji itu dilakukan Suwindarto pada Kamis (5/10/2006) malam, saat orangtua dan bibinya tengah tidur pulas. Entah mengapa Suwindarto bisa berlaku sekejam itu. Yang jelas, saat itu, dia menghunus golok, dan kemudian digunakan untuk menggorok leher para korban hingga tewas. Para korban tewas itu adalah, Dikun (ayah kandung/80 tahun), Sukarmi (ibu kandung/70 tahun), dan Fatimah (bibi/65 tahun). Setelah menggorok mereka, Suwindarto yang linglung itu pun lantas berusaha bunuh diri dengan cara menusukkan golok yang bersimbah darah itu ke perutnya sendiri. Tapi, golok sepanjang 40 cm itu tidak sampai menghilangkan nyawa Suwindarto. Sebab, para tetangganya memergokinya dan langsung membawanya ke Puskesmas untuk ditangani tim medis. Kapolres Tuban AKBP Bambang Priyambadha membenarkan bahwa pelakun pembunuhan ini adalah anak korban. "Ketiga korban dibunuh di kamar saat tidur. Saat ini tersangka sudah diamankan dan dalam pemeriksaan," kata Bambang saatdihubungi detikcom, Jumat (6/10/2006) sore.Sementara informasi dari para tetangga, tersangka Suwindarto sebenarnya memang kurang waras. Dia terganggu jiwanya sejak di-PHK dari pekerjaannya. Gangguan kejiwaan yang dialaminya itu bertambah parah setelah istrinya meninggal dunia. Menurut Sukanto, Ketua RT 2 Desa Wotsogo, perilaku tersangka mengalami perubahan sejak satu setengah tahun yang lalu. Tersangka dan Amah, istrinya, di-PHK dari pekerjaanya di salah satu pabrik di Sidoarjo. Dia shock berat lantaran kondisi ekonominya yang tak kunjung membaik. Nah setelah itulah, polah tersangka semakin berubah. "Dia akhirnya disuruh balik ke Jatirogo, sedangkanya anaknya Yudi (7) dititipkan di rumah orangtuanya di Sidoarjo," kata Sukanto di sela-sela pemakaman korban.Setiba di kampung halaman, menurut Sukanto, kondisi tersangka kerap kali dijumpai seperti orang linglung. Dia menjadi sensitif, mudah emosi.Yang membuat warga cemas, tersangka ke mana-mana selalu membawa pisau."Terkadang dengan menghunus pisau, dia mengancam warga tanpa diketahui sebabnya. Suatu kali pernah ditangkap dan ditahan polisi tapi bebas karena sakit jiwa," terangnya.Untuk menyelidiki kasus ini, Polresta Tuban mendatangkan psikiater dari Polda Jawa Timur. "Kita akan periksa kejiwaan tersangka, sebab keterangan saksi menyebut dia menderita gangguan jiwa," kata Kapolres Tuban.
(gik/asy)











































