Kasus Mei 1998
Petinggi TNI Ancam Amien
Jumat, 06 Okt 2006 13:38 WIB
Jakarta - Memori kasus Mei 1998 - kerusuhan dan kejatuhan Soeharto - kembali mencuat setelah munculnya buku 'Detik-detik yang Menentukan' tulisan BJ Habibie. Amien Rais disebut-sebut sangat berperan dalam proses kejatuhan Soeharto. Bahkan, Amien pernah diancam petinggi Mabes TNI. Menurut mantan asisten pribadi Amien Rais, Muhammad Najib, tentara saat itu sangat khawatir dengan gerakan menentang Soeharto yang dilakukan Amien Rais cs. "Pihak pemerintah khususnya tentara memang sangat cemas dengan gerakan Pak Amien ketika itu," ujar Najib saat ditemui wartawan di DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (6/10/2006).Bentuk kecemasan tentara adalah dengan mengancam Amien Rais untuk menghentikan agenda aksi sejuta umat yang direncanakan digelar pada 20 Mei 1998. Ancaman itu datang dari seorang petinggi di Mabes ABRI melalui telepon ke Najib."Tanggal 19 malam memang ada telepon lewat handphone saya, yang mengancam, Pak Amien kalau terus menggerakkan massanya ke Monas (tanggal 20 Mei 1998) akan di-Tiananmen-kan. Saya tidak ingin menyebut nama, tapi dia orang yang sangat penting di Cilangkap (Mabes ABRI--red) dan orang sangat menentukan ketika itu," beber Najib yang dekat dengan Amien sejak 1995 ini.Menjelang detik-detik kejatuhan Soeharto, kata Najib, Amien terus melakukan komunikasi dengan tokoh-tokoh, termasuk dengan Habibie dan Prabowo Subianto. "Ketika itu paling tidak, saya yang banyak menghabiskan waktu dengan Pak Amien, (yakin) Pak Amien tidak ada main mata dengan Wiranto. Dengan Habibie jelas Pak Amien banyak komunikasi, juga dengan Prabowo," ungkap pria yang kini menjadi Wakil Ketua Fraksi PAN di DPR RI ini.Tentang tudingan bahwa gerakan pelengseran Soeharto ini juga merupakan agenda Amerika Serikat (AS), Najib tidak yakin. Dalam pelengseran Soeharto, Amien tidak pernah bertemu dengan orang-orang AS atau Kedubes AS. Sebelumnya mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (purn) Kivlan Zen menyebutkan bahwa pelengseran Soeharto merupakan misi dunia internasional, termasuk AS. Namun, tokoh-tokoh Indonesia, seperti Wiranto, Habibie, dan Amien Rais tidak menyadarinya. "Wiranto tidak sadar ini permainan internasional. Jadi rencananya, Soeharto jatuh, Habibie ikut jatuh. Ormas-ormas Islam banyak yang tidak tahu ikut menghantam (Soeharto) terutama Amien Rais," ujar Kivlan dalam diskusi 'Kontroversi Mei 98' di Institute for Policy Studies, Selasa (3/10/2006) lalu.
(aba/asy)











































