Ramadan Belum Mendidik Umat Islam Puasa Korupsi
Kamis, 05 Okt 2006 20:03 WIB
Jakarta - Momentum bulan puasa seharusnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan moralitas dalam masyarakat. Namun sayangnya jarang yang bisa memanfaatkannya. Karena itu keluar dari bulan Ramadan, belum terjadi perubahan drastis bagi bangsa, negara dan agama.Hal ini diungkapkan cendekiawan Muslim Abdulrahman dalam acara diskusi bertajuk "Relasi Islam dan Negara dalam Pemberantasan Korupsi" di Gedung Graha Surya Lt 15, Jl MH Thamrin, Jakarta, Kamis (5/10/2006)."Orang Indonesia yang tarawihnya 23 rakaat, korupsinya ternyata lebih dari 23 rakaat. Sementara di negeri yang tidak ada tarawihnya indeks korupsinya lebih rendah," tutur Muslim.Muslim menjelaskan, kriteria-kriteria untuk mengukur orang Islam atau tidak itu tidak masuk akal. Kadang-kadang Islam diukur dari masalah yang sepele, tapi bukan dengan cara yang mendasar seperti korupsi atau hak asasi.Selanjutnya, kalau ada orang yang memperjuangkan hak asasi atau korupsi, justru tidak dianggap memperjuangkan agama. "Kalau puasa, menyulap kwitansi batal atau tidak? Ajaran seperti itu tidak ada di majelis taklim," jelas Muslim.Lebih lanjut, Muslim memaparkan, di Eropa yang mayoritas nonmuslim dan tidak menerapkan syariah, tapi bisa Islami. "Karena mereka menjalankan nilai-nilai keislaman," papar Muslim.
(ahm/asy)











































