Mimbar yang Berusia 100 Tahun

Masjid Sejarah di Pekanbaru (4)

Mimbar yang Berusia 100 Tahun

- detikNews
Selasa, 03 Okt 2006 16:36 WIB
Mimbar yang Berusia 100 Tahun
Pekanbaru - Selain ada sumur tua yang unik, di dalam Masjid Sejarah, masih banyak keunikan dan cerita cerita unik lainnya. Salah satunya adalah mimbar, tempat imam berkhutbah, yang usianya sudah 100 tahun. Dari mana mimbar ini didapat?Sejarah panjang perjalanan kerajaan Siak tidak pernah terlepas dari berdirinya Provinsi Riau itu sendiri. Kesultaan Siak Sri Indrapura memiliki kekuasaan hingga raja ke-12 yang berakhir pada masa kemerdekaan RI tahun 1945. Raja terakhir adalah Sultan Syarif Kasim II yang tercatat dalam sejarah menyumbangkan uang 3 juta Gulden tahun 1945 kepada pemerintah yang diterima Presiden Soekarno di Yogya. Tak cuma itu, sultan terakhir yang dijadikan Pahlawan Nasional asal Riau ini, juga memberikan emas murni tiga gantang (tempat takaran beras) kepada pemerintah. Raja Siak, merupakan penguasa kerajaan Islam yang memiliki garis keturunan dari Malayasia dan berdarah Arab. Kota Pekanbaru merupakan saksi bisu sebuah peninggalan Sultan IV, Marhum Bikit, yang mendirikannya sekaligus membangun masjid raya pada tahun 1926 silam. Di dalam masjid, terdapat mimbar tempat imam berkhutbah. Mimbar terbuat dari kayu dengan bentuk ukiran corak kaligrafi Arab ini, usianya diperkirakan sudah lebih dari 100 tahun. Mimbar setinggi dua meter itu sengaja dibeli sultan dari Arab Saudi."Sampai sekarang, mimbar ini masih bisa dipergunakan tanpa pernah direnovasi. Usianya sudah 100 tahun, itu artinya mimbar ini lebih dulu ada, baru masjid ini dibangun," kata Imam Masjid Raya, Azhar Kasim kepada detikcom. Azhar bercerita, Sultan Siak mengangkat salah seorang keluarga dekatnya sebagai imam masjid sekitar tahun 1940-an. Imam masjid bernama Mohamad Tahir ini dipandang masyarakat di Pekanbaru sebagai imam yang penuh kharismatik.Banyak cerita yang beredar di masyarakat bahwa dulu setiap salat subuh, masjid seakan penuh dengan makmum. Padahal, masyarakat mengetahui hanya beberapa orang saja yang melaksanakan salat subuh berjamaah. Namun, para makmum merasa masjid ini tidak pernah sepi dari jamaahnya yang ikut salat. "Imam-imam sebelum saya, bercerita, bahwa yang mengikuti salat jamaah subuh itu sebagian lagi jin. Tak cuma salat subuh, magrib dan isya, selalu juga seperti itu. Sehingga masjid ini tidak pernah kelihatan sepi," cerita Azhar yang sudah sepuluh tahun menjadi imam di masjid raya ini. (cha/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads