Santri Raudlatul Mustaqim Bertahan di Ruko Porong
Selasa, 03 Okt 2006 15:13 WIB
Sidoarjo -
Meski ratusan kepala keluarga (KK) mulai meninggalkan pengungsian di Pasar Baru Porong, Sidoarjo, sebanyak 21 santri pondok pesantren Raudlatul Mustaqim terpaksa bertahan. Mereka masih menunggu kepastian lokasi baru dari Lapindo Brantas Inc."Kiai kami tengah mengupayakan, besok proposalnya baru masuk. Kami sabar saja," kata Budiarto, salah satu santri, sambil mencoba tetap tertawa saat ditemui di pengungsian tersebut, Selasa (3/10/2006).Kondisi Ponpes Raudlatul Mustaqim yang hanya berjarak 200 meter dari pusat semburan lumpur panas Lapindo kini mengenaskan. Separuh bangunan ponpes di Desa Jatirejo itu sudah terendam lumpur.Untuk bertahan hidup sebagian santri memilih berjualan di Pasar Porong, namun sebagian lagi mengandalkan bantuan dari Lapindo."Ini saya jualan apa saja, dari sembako, kapur barus dan lain-lain," kata Budi.Akibat lumpur panas, aktivitas ponpes terpaksa dialihkan ke tempat pengungsian itu. Semua aktivitas pengajian dilakukan di sini. Untuk kegiatan tersebut, para kiai yang mengajar di ponpes selalu berkunjung setiap malam.Tinggal di pengungsian sudah tentu tidak enak. Setiap orang harus siap terserang penyakit. Demikian juga para santri ini. Salah satunya, Ali (17), santri asal Tuban yang baru saja terserang cacar air."Kata petugas yang sempat memeriksa itu karena udara kotor dan air kurang bersih," kata Ali yang sambil nyantri juga bekerja di pabrik rokok di sekitar ponpes. Dia sempat mendapat ganti rugi Rp 650 ribu dari Lapindo.Para santri itu kini hidup apa adanya di pengungsian. Mereka menyulap teras ruko menjadi bilik-bilik kecil yang disekat dengan kain ala kadarnya.Para santri ini termasuk pengungsi yang tidak terhitung dalam KK, karena mereka tidak tinggal dalam sebuah keluarga.
(umi/nrl)










































