Berpartai Tak Cuma Cari Kekuasaan

Lebih Dekat dengan Hidayat Nurwahid (1)

Berpartai Tak Cuma Cari Kekuasaan

- detikNews
Selasa, 03 Okt 2006 10:46 WIB
Berpartai Tak Cuma Cari Kekuasaan
Medan - Sosok Ketua MPR Hidayat Nurwahid digadang-gadang sebagai tokoh muda yang pantas menjadi pemimpin negeri ini pada 2009 mendatang. Konsep berpolitik pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah 46 tahun silam ini juga menarik disimak. Bagi dia, berpartai tidak hanya untuk tujuan kekuasaan.Hidayat Nurwahid, yang selalu tampil sederhana, ini bersedia diwawancarai wartawan detikcom bersama beberapa wartawan lainnya, sekembalinya dari kegiatan safari Ramadan di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Wawancara berlangsung di Bandara Polonia, Medan, Sumatera Utara, Sabtu (30/9/2006) lalu dan berlangsung selama sekitar 30 menit. Hidayat yang sering disapa 'ustad' tampil sederhana mengenakan baju koko bermotif kotak dan tak lepas peci hitam melekat di kepalanya. Berikut wawancara dengan mantan Presiden Partai Keadilan (PK) ini: Sejak kapan tepatnya Ustad terjun berpolitik?Latar belakang keluarga saya aktivis. Orang tua saya pengurus ormas keagamaan, ibu saya pengurus aisyiah, meski tidak di organisasi politik. Kalau beliau rapat, saya biasanya diajak dalam forum pertemuan ayah saya. Sewaktu saya di Pondok Modern Gontor, ada kegiatan semacam pidato, kita dibiasakan untuk ngomong tentang masalah keumatan, tentang perjuangan, jihad. Jadi itu sudah jadi bagian sehari-hari.Waktu saya kuliah di Madinah, saya aktif di organisasi pelajar. Sudah terbiasa dengan urusan TKI, TKW, serta berhubungan dengan KBRI. Jadi ketika reformasi sebelumnya saya berpolitik, berbarengan saya aktif di kampus, saya juga aktif di LSM untuk pemberdayaan masyarakat juga visi dari politik. Ketika reformasi, ada ajakan membentuk parpol, ya sudah saya bergabung.Kenapa pilihannya partai Islam?Itu adalah salah satu koreksi atas pemerintahan Orde Baru yang memonopoli tafsir Pancasila dengan asas tunggal pada ormas dan parpol. Padahal menurut Bung Karno dalam salah satu pidatonya tahun 1954, dia menolak diberlakukannya asas tunggal. Ketika itu dia mengingatkan kaum Marhaen untuk tidak menjadikan Pancasila sebagai asas. Dan tidak ada pasal dalam UUD yang menyebutkan kewajiban yang menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas.Ketika kami mendirikan parpol Islam salah satu yang kita inginkan adalah reformasi dan demokrasi yang elegan, dan tidak bertentangan dengan Pancasila. Waktu itu kita mencalonkan kawan-kawan yang dari luar parlemen, seperti Partai Keadilan, Partai Masyumi, Partai Umat Islam, dan Partai Syarikat Umat untuk mengoreksi aturan UU yang tadinya mengharuskan adanya asas tunggal. Tentu kami tidak bisa menghilangkan asas ciri yang menjadi identitas kami bahwa kami adalah seorang muslim. Karena itu kami mendirikan partai Islam.Saya pernah berdialog dengan kalangan orientalis dan juga Indonesianis semacam Daniel Lev. Waktu itu dia mengatakan kekhawatirannya dengan partai berasas Islam yang akan menghadirkan konflik. Kalau dibandingkan secara objektif dengan partai lain yang asasnya nasionalis, partai saya hampir tidak ada konflik. Justru sebagian partai yang membawa asas nasionalis konfliknya jauh lebih sering terjadi.Apa rahasianya supaya partai tetap solid?Salah satunya adalah paradigma dasar mengapa kita mendirikan parpol. Dasarnya sejak awal bukan untuk kekuasaan an sich, tetapi untuk mengartikulasikan gagasan melayani umat, dan mengartikulasikan organisasi untuk menjadi sarana penyebaran dakwah.Dari dua paradigma ini memunculkan fakta berikutnya kalau kita melayani bagaimana kita akan berkonflik. Kalau kita misalnya di restoran, kemudian para pelayannya menhadirkan konflik, sebentar lagi restorannya tidak didatangi orang. Kalau anda niatnya untuk melayani pasti tidak berkonflik. Kedua, kalau orientasinya untuk dakwah, salah satu pintu dasarnya adalah bil hikmah wal mauidzoh hasanah. Kalau terjadi perdebatan, maka billati hiya ahsan, yakni dengan cara yang lebih baik Itu menutup faktor yang akan mengumbar konflik.Ada yang mengatakan partai dakwah itu tidak ada, dan hanya akal-akalan. Kalau yang berkata begitu mau membaca lebih dalam fakta politik di dunia internasional, di Irak pun ada parpol dakwah dan eksis, bahkan menjadi partai yang paling oposisi. Sampai saat ini partai itu masih dikenal sebagai kekuatan politik yang konkret. Kalau dia bilang tidak ada partai dakwah, artinya dia belum arif melihat fakta internasional.Kalau kemudian, dakwah dilarang berkomunikasi dengan politik dan kekuasaaan, hendaknya yang ngomong itu, baca al-Quran lebih cerdas lagi. Sebab dia akan ketemu para nabi adalah imamnya para dai, dan inilah yang disebut sebagai nabi yang abdan (nabi yang hamba) dan dia tiak berkuasa sama sekali. Tapi ada nabi yang disebut malikan (nabi yang berkuasa) seperti Nabi Yusuf yang berkuasa menjadi menteri, ada Nabi Daud yang kekuasannya luar biasa dan menjadikan teknologi besi untuk mengokohkan kekuasaannya. Ada Nabi Sulaiman yang mempunyai kuasa luar biasa dan berdoa 'Ya Allah berikan kekuasaan kepadaku yang luar biasa, yang tidak akan bisa disaingi penguasa berikutnya'.Jadi dakwah kaitannya dengan kekuasaan itu bagian dari fakta al-Quran. Nabi Muhammad adalah juga contoh bagaimana dakwah dengan kekuasaan, beliau berdakwah dengan menghadirkan masyarakat baru, dengan kepemimpinan.Jadi dakwah itu orientasinya bukan kekuasaan. Dan kekuasaan digunakan sebagai sarana berdakwah amar makruf nahi munkar, dan melakukan mauidzoh hasanah. Berdakwah dengan kekuasaan akan menghadirkan toleransi dan tidak akan memecah belah serta tidak akan menzalimi kelompok minoritas.Islam adalah mayoritas, tapi mengapa parpol Islam tidak pernah menang?Dalam kaidah politik Islam, ada istilah kualitas rakyat mencerminkan kualitas pemimpin. Kualitas pemimpin adalah bagian dari kualitas rakyat. Kalau rakyat misalnya ternyata lebih menyukai dengan yang tidak Islam, maka akan memilih partai yang tidak Islam. Tapi kalau rakyat menyukai hal yang berkait dengan Islam, maka rakyat akan memilih parpol Islam, meski diintimidasi dengan cara apa pun. Jadi menurut saya mengapa partai Islam tidak juga menang, rakyat pada umumnya belum Islam secara politik.Dalam konteks demokrasi, kami sebagai prapol Islam tidak bisa memaksa orang Islam untuk berpartai Islam. Ini juga tantangan bagi parpol Islam untuk melakukan komunikasi intensif dan memberdayakan masyarakat dengan dakwah yang lebih berkualitas, serta menghadirkan fakta bahwa parpol Islam lebih baik dan lebih membela kepentingan umat secara lebih profesional.Kalau kita buat kajian yang lebih mendalam misalnya tahun 1955, siapa yang menjamin waktu itu PNI lebih profesional ketimbang Masyumi. Tokoh Masyumi dari kalangan akademisi, dari kalangan pejuang dan ulama yang luar biasa. Tapi toh akhirnya rakyat yang memenangkan PNI. Jadi saya ingin menegaskan ini bukan satu hal yang matematis, sekaligus sebagai instrospeksi bagi partai Islam. Saya kira babnya bukan karena parpol Islam pecah. Tapi kalau ukurannya partai pecah, lebih banyak partai sekuler yang pecah. Jadi ukurannya bukan pecah atau tidak pecah.Kita harus buktikan parpol Islam membela kepentingan umat, seperti kasus lumpur panas, sejauh mana partai Islam membela kepentingan warga di sana. Ada kasus impor beras, ujian nasional. Kalau kemudian parpol Islam membuktikan itu dan memperjuangkan kepentingan umat, ada kemungkinan parpol sekuler bahkan non muslim pun akan menjadi parpol Islam.Dalam survei LSI hasil pemilu 2004, ternyata pemilih PKS tidak hanya orang Islam. 2,5 Persen dari pemilih PKS adalah non muslim dan menurut LSI, itu lebih besar dari pada pemilih PAN.Bagaimana upaya mensinergikan partai Islam, dan apakah perlu?Segala yang dipersiapkan terlalu lama tidak menjamin akan terjadi. Tapi banyak sekali kegiatan bersama yang itu berlaku dinamis. Dulu pernah ada, Kongres Umat Islam di Pondok Gede dan sempat ada ide partai Islam hanya satu saja, dan maunya Amien Rais sebagai ketua. Kemudian Pak Amien nggak mau, lalu muncul Pak Yusril. Tapi kalangan Masyumi tidak mau, karena asasnya dipertanyakan, hingga akhirnya mereka mendirikan sendiri.Sudahlah, biarkan masing-masing berjalan maksimal. Kalau semua maksimal toh belum tentu bisa menyelesaikan semua masalah. Jangan orientasi kita dibikin sibuk menyatukan, tapi kemudian mengutuknya kalau tidak jadi. Jadi biarkan saja, dan nanti pada gilirannya akan ketemu formula bagaimana kita bisa satu.Saya sudah tegaskan, jangan hanya parpol Islam saja yang seolah ada masalah dari sisi sinergi. Anda lihat parpol yang non Islam, bahkan partai seperti PDS-pun juga dalam diri mereka ada friksi yang sama, bahkan sampaisaling melaporkan ke Mabes Polri.Tapi karena ini adalah politik, dan tidak ada satu figur yang berpengaruh serta tidak ada satu institusi yang bisa memaksa semua orang, yang akan terjadi adalah biarkan mereka bekerja maksimal. Jangan buang waktu kita hanya untuk sekadar mengutuk. Pada gilirannya mereka akan berpikir adanya kepentingan yang lebih besar. Bagaimana bentuknya kita lihat nanti. (fjr/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads