Surat dari Widodo: Ingin Jadikan Widari Sahabat Sejati

Surat dari Widodo: Ingin Jadikan Widari Sahabat Sejati

- detikNews
Senin, 02 Okt 2006 12:32 WIB
Surat dari Widodo: Ingin Jadikan Widari Sahabat Sejati
Jakarta - Widodo Suwardjo kebanjiran e-mail yang berisikan kepedulian dan solidaritas dari banyak orang dari berbagai negara tentang kisahnya yang dimuat detikcom, termasuk kisah cintanya. Dari hati yang paling dalam, Widodo mengucapkan terima kasih atas kepeduliannya ini. Ucapan terima kasih Widodo disampaikan dalam e-mailnya kepada detikcom tertanggal 29 September 2006. Namun, redaksi detikcom baru menerima e-mail tersebut hari Senin (2/10/2006). Dalam prolognya, Widodo merasa lega dengan informasi tentang keberadaan Widari Soewahjo. Widodo akan menjadikan Widari sebagai sahabat sejati. Dalam prolog e-mailnya, Widodo menuliskan sebagai berikut:"Sejak dipublikasikannya artikel di detikcom, email saya dibanjiri oleh para pembaca artikel itu dengan pernyataan solidaritas, doa, masukan dan harapan harapan yang berkesan bagi saya. Soal Ibu Widari sudah jelas, hati saya lega dan bila nanti ketemu dengan keluarga Ibu Widari, beliau akan saya jadikan sahabat yang sejati. Ini juga yang namanya rekonsiliasi kan?Karena saya tidak mempunyai kemungkinan membalas satu per satu kepada para pembaca detikcom yang telah mengirim solidaritasnya pada saya, maka saya menulis balasan kolektif lewat staf redaksi detikcom yang saya lampirkan pada surat ini." Berikut isi surat selengkapnya dari pria 66 tahun yang kini masih tinggal di Kuba yang ditujukan kepada redaksi dan pembaca detikcom:"Pertama, terima kasih atas publikasi dari hasil wawancara detikcom dengan saya di Havana pada saat kunjungan Bapak Presiden RI ke Havana dalam rangka KTT-Non Blok yang lalu.Sebenarnya sosok saya ini, atau kasus saya ini adalah hanya salah satu dari korban sejarah atau korban kemanusiaan yang jumlahnya bukan ratusan, tapi ratusan ribu dan bahkan bila dihitung dengan anak cucunya bisa mencapai jutaan orang. Dan dibanding dengan mereka, penderitaan saya ini boleh dikategori belum apa-apa.Kedua, pada kesempatan ini dari lubuk hati yang dalam, saya ingin menyampaikan banyak tarima kasih pada para pembaca detikcom yang telah mengirimkan solidaritasnya lewat email, yang datangnya bukan saja dari bermacam kepulauan Indonesia, tapi juga dari Jepang, Cina, Malaysia, Timor Leste, Australia, dll.Akan saya catat dalam hati saya semua harapan, doa, simpati dan kesetiakawanan dalam proses penyelesaian kasus yang saya alami sampai detik ini, terutama dalam soal yang menyangkut HAM. Bukankah soal cinta kasih, kesetiaan, baik pada sesama manusia maupun pada negeri dan rakyatnya itu juga merupakan bagian dari HAM?Ketiga, pada kesempatan hari-hari terakhir bulan September ini saya mengajak pada para pembaca detikcom dan pada bangsaku dan pemimpin-pemimpinnya untuk mawas diri, pengadaan pemikiran dan renungan ulang mengenai perlunya rekonsiliasi bangsa yang merupakan salah satu dari penegakan HAM di negeri kita, karena rekonsiliasi nasional bangsa adalah awal dari kebangkitan bangsa kita yang besar itu.Sejarah negeri kita harus dibikin jelas, agar bangsa Indonesia sekarang dan generasi selanjutnya dapat belajar dan memetik hikmah sejarahnya, hingga tragedi kemanusiaan di masa lalu dalam bentuk apa pun tidak boleh terulang lagi.Akhirnya, selamat berbuka puasa pada staf detikcom dan para pembacanya yang beragana Islam, beserta salam dari Havana.Wassalam,Widodo SuwardjoHavana, 29 September 2006" (asy/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads